Monday, August 7, 2023

PRINSIP PENGGUNAAN OBAT TRADISIONAL

Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes.,M.Farm.Klin

Secara mendasar, obat tradisional terdiri dari bagian-bagian tanaman atau ekstrak tanaman, hewan dan mineral yang belum dimurnikan yang mengandung berbagai komponen yang seringkali diyakini bekerja secara sinergis. Kebangkitan minat masyarakat baru-baru ini terhadap obat tradisional dikaitkan dengan beberapa faktor, antara lain :

  1. Berbagai klaim tentang efikasi atau efektivitas obat-obatan tradisional
  2. Preferensi konsumen terhadap terapi alami dan minat yang lebih besar pada obat alternatif, 
  3. Keyakinan salah bahwa produk obat tradisional lebih unggul daripada produk manufaktur
  4. Ketidakpuasan dengan hasil dari farmasi konvensional dan keyakinan bahwa obat tradisional mungkin efektif dalam pengobatan beberapa penyakit di mana terapi dan obat konvensional terbukti tidak efektif atau tidak memadai,
  5. biaya tinggi dan efek samping dari sebagian besar obat modern, 
  6. peningkatan kualitas, efikasi, dan keamanan obat herbal dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, 
  7. keyakinan pasien bahwa dokter mereka tidak dengan tepat mengidentifikasi masalah; oleh karena itu muncul perasaan bahwa obat tradisional merupakan pilihan lain, dan
  8. pergerakan menuju swamedikasi.

Monday, June 12, 2023

KONSEP BALANCED SCORECARD (BSC) UNTUK PENINGKATAN MUTU RUMAH SAKIT

Oleh apt. Ilman Silanas, M.Kes.,M.Farm.Klin


Pendahuluan

Manajemen mutu di rumah sakit adalah serangkaian proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi mutu pelayanan rumah sakit. Manajemen mutu bertujuan untuk memastikan bahwa setiap aspek pelayanan kesehatan yang diberikan memenuhi standar. Dengan menerapkan manajemen mutu yang baik, rumah sakit dapat meningkatkan kepuasan pasien, meminimalkan risiko kesalahan medis, dan meningkatkan efisiensi operasional.

Manajemen mutu membantu rumah sakit untuk mengidentifikasi dan mengatasi kelemahan dalam sistem pelayanan kesehatan mereka. Hal ini melibatkan pemantauan dan evaluasi yang berkelanjutan terhadap proses dan hasil pelayanan, termasuk pengukuran kinerja dan pelaporan data yang akurat. Dengan adanya manajemen mutu yang efektif, rumah sakit dapat mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki, mengimplementasikan tindakan perbaikan yang tepat, dan mengukur dampaknya terhadap kualitas pelayanan yang diberikan.

Selain itu, manajemen mutu juga berperan penting dalam meningkatkan keselamatan pasien. Dengan adanya sistem yang terstruktur untuk memantau kesalahan dan risiko medis, rumah sakit dapat mengidentifikasi faktor penyebab, mengadopsi praktik terbaik, dan mencegah kejadian yang berpotensi membahayakan pasien. Penerapan manajemen mutu juga membantu memastikan bahwa prosedur medis yang dilakukan di rumah sakit sesuai dengan standar keselamatan yang ditetapkan.

Secara keseluruhan, manajemen mutu merupakan komponen penting dalam upaya rumah sakit untuk memberikan pelayanan yang berkualitas, aman, dan efisien. Dengan adanya manajemen mutu yang baik, rumah sakit dapat terus melakukan perbaikan dan peningkatan yang berkelanjutan, sehingga memberikan manfaat yang maksimal bagi pasien dan masyarakat yang dilayani.

Friday, June 9, 2023

APOTEKER "GOOD TO GREAT"

Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes., M.Farm.Klin
Apoteker RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung
Anggota HISFARSI PD. IAI Jawa Barat


Apa itu "Good to Great" ?

"Good to Great" adalah judul sebuah buku yang ditulis oleh Jim Collins. Buku ini menggambarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Collins dan timnya selama lima tahun untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang membedakan perusahaan yang baik menjadi perusahaan yang luar biasa.
Jim Collins menyusun konsep "Good to Great". Latar belakang penyusunan buku ini terletak pada keinginannya untuk memahami mengapa beberapa perusahaan berhasil mencapai tingkat keunggulan yang luar biasa, sementara yang lain tetap berada di tingkat yang baik namun tidak mencapai keunggulan yang sama.

Collins ingin mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang membedakan perusahaan yang mampu bertransformasi dari "baik" menjadi "hebat" dalam jangka waktu yang lama. Untuk mencapai tujuan ini, ia dan timnya melakukan penelitian selama lima tahun, menganalisis data dari ribuan perusahaan dan mengidentifikasi perusahaan-perusahaan yang berhasil mencapai kinerja yang luar biasa dalam jangka waktu yang signifikan.

Thursday, June 8, 2023

Konsep Dasar Evidence Based Medicine dalam Praktik Kefarmasian

Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes.,M.Farm.Klin


Evidence Based Medicine (EBM) adalah pendekatan dalam pengambilan keputusan medis yang didasarkan pada bukti ilmiah terbaik yang tersedia. Konsep ini bertujuan untuk mengintegrasikan pengetahuan klinis, pengalaman klinis, dan preferensi pasien dengan bukti-bukti ilmiah yang diperoleh melalui penelitian yang berkualitas. EBM mendorong praktisi medis, termasuk apoteker, untuk menggunakan bukti ilmiah yang kuat dalam pengambilan keputusan terkait pengobatan, pencegahan, dan manajemen penyakit.

Penerapan EBM dalam praktik apoteker memungkinkan apoteker untuk menyediakan layanan farmasi yang berkualitas dan berdasarkan bukti. Apoteker dapat menggunakan penelitian klinis, meta-analisis, panduan praktik klinis, dan literatur ilmiah lainnya untuk menghasilkan keputusan yang tepat. Dengan memiliki pengetahuan tentang EBM, apoteker dapat memastikan bahwa rekomendasi mereka didasarkan pada bukti yang kuat dan memberikan manfaat terbaik bagi pasien. Selain itu, EBM juga memungkinkan apoteker untuk terus mengembangkan dan meningkatkan praktik mereka dengan memperbarui pengetahuan melalui penelitian terbaru dan bukti ilmiah yang terkini. Dengan demikian, pengenalan tentang konsep EBM penting bagi apoteker dalam memberikan pelayanan yang optimal dan berdasarkan bukti ilmiah.

Prinsip Dasar EBM

Prinsip Dasar EBM adalah pendekatan yang sistematis dan terstruktur dalam pengambilan keputusan klinis yang didasarkan pada bukti ilmiah yang terbaik yang tersedia. Prinsip-prinsip ini membantu memastikan bahwa praktik klinis didasarkan pada penelitian yang terpercaya dan relevan, serta membantu menghindari keputusan berdasarkan kepercayaan semata atau pengalaman individu yang terbatas. 

Tuesday, April 11, 2023

MENGENAL OBAT UNTUK PENYAKIT JANTUNG KORONER

apt. Ilman Silanas, M.Kes., M.Farm.Klin

Kali ini saya akan mengajak pembaca sekalian untuk mengenal obat-obatan  yang biasa digunakan dalam pengobatan penyakit Coronary Arterial Disease (CAD) atau Penyakit Jantung Koroner (PJK). Berikut adalah beberapa obat yang umum digunakan dalam pengobatan CAD beserta mekanisme kerjanya:

1. Antiplatelet, seperti Aspirin dan Clopidogrel: Obat ini bekerja dengan menghambat pembentukan bekuan darah dengan menghambat aktivasi platelet. Aspirin bekerja dengan menghambat enzim siklooksigenase (COX) dan mereduksi produksi tromboksan A2, sedangkan Clopidogrel bekerja dengan menghambat reseptor ADP pada platelet.

Monday, April 10, 2023

SAYA SUDAH MENGGUNAKAN OBAT HIPERTENSI, TAPI MENGAPA TEKANAN DARAH SAYA TAK KUNJUNG TERKONTROL ?

Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes., M.Farm.Klin

Pertanyaan itu sering diajukan oleh pasien hipertensi yang belum juga mendapat hasil positif dari terapi yang dijalani. Sebuah analisis dari sampel NHANES 2003-2010 yang fokus pada karakteristik orang dengan hipertensi tidak terkontrol menunjukkan bahwa 39,4% subjek tidak menyadari hipertensi mereka, 15,8% menyadari tetapi saat ini tidak menggunakan obat, dan hanya 44,8% menyadari dan sedang menjalani pengobatan.¹ Data tersebut menunjukan ada 44,8% pasien yang menjalani pengobatan tapi hipertensi nya belum juga terkontrol.

Tenaga kesehatan dan juga pasien perlu mengetahui faktor-faktor yang bisa menyebabkan kegagalan pengobatan (medication failure) pada terapi hipertensi. Berikut adalah beberapa faktor-faktor tersebut :

OBAT TRADISIONAL PENURUN BERAT BADAN

Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes., M.Farm.Klin

Obesitas adalah masalah kesehatan global yang terus meningkat. Menurut data WHO, pada tahun 2016, lebih dari 1,9 miliar orang dewasa di seluruh dunia memiliki kelebihan berat badan, dan lebih dari 650 juta orang di antaranya adalah obesitas. Obesitas dapat meningkatkan risiko terjadinya berbagai penyakit, seperti diabetes, penyakit jantung, dan kanker.

Di Indonesia, masalah obesitas juga semakin meningkat. Menurut data Riskesdas 2018, prevalensi obesitas pada orang dewasa di Indonesia meningkat dari 19,4% pada tahun 2013 menjadi 21,8% pada tahun 2018. Obesitas juga semakin sering ditemukan pada anak-anak dan remaja. Faktor-faktor yang menyebabkan meningkatnya kasus obesitas di Indonesia meliputi perubahan pola makan, gaya hidup yang kurang aktif, dan urbanisasi.

Permasalahan obesitas di Indonesia tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga berdampak pada ekonomi negara. Biaya pengobatan penyakit yang disebabkan oleh obesitas sangat tinggi, dan dapat mengurangi produktivitas dan kualitas hidup individu.

Untuk mengatasi masalah obesitas, diperlukan upaya dari berbagai pihak, seperti pemerintah, masyarakat, dan industri makanan. Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gaya hidup sehat, memperbaiki pola makan dan meningkatkan aktivitas fisik, serta mengatur regulasi dan kebijakan terkait makanan dan minuman yang dikonsumsi.

Indonesia sebagai negeri dengan keragaman hayati yang melimpah memiliki tanaman yang berpotensi mengatasi masalah obesitas. Berikut ini adalah lima tanaman herbal yang dapat membantu menurunkan berat badan:

BIJAK MENGGUNAKAN OBAT TRADISIONAL

Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes., M.Farm.Klin

Masyarakat Indonesia masih menjadikan obat tradisional sebagai pilihan untuk mengobati berbagai macam keluhan penyakit. Data  Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2018 menunjukkan 75,6% masyarakat menggunakan obat tradisional. Sementara itu, menurut data dari Asosiasi Pengusaha Suplemen Kesehatan dan Produk Kesehatan Indonesia (APSKI) pada tahun 2019, pangsa pasar herbal dari seluruh pasar produk kesehatan mencapai sekitar 35%.

Pasar obat tradisional di Indonesia terus mengalami peningkatan. Dari data Direktorat Jendral Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan kementrian Kesehatan RI, pada tahun 2006 pasar obat herbal mencapai Rp 5 triliun. Di tahun 2007 dan 2008, pasar obat herbal menjadi Rp.6 triliun dan Rp 7,2 triliun secara berurutan. Pada tahun 2012, pasar obat herbal mencapai Rp 13,2 triliun dengan nilai dalam negeri sebesar Rp12,1 triliun dan ekspor sebesar Rp 1,1 triliun. Pasar obat herbal tersebut meliputi Jamu, obat herbal, minuman herbal, spa dan aroma terapi.¹

HAL-HAL PENTING TENTANG CAMPAK

Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes., M.Farm.Klin

Sebagai Apoteker Ahli Farmasi Klinik saya akan menyampaikan hal hal yang masyarakat harus ketahui tentang penyakit campak:

HATI-HATI MENGGUNAKAN PARASETAMOL PADA KONDISI INI !!!!

Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes., M.Farm.Klin

Parasetamol adalah obat penurun demam dan penghilang rasa sakit yang umum digunakan. Namun, ada beberapa kondisi tertentu yang membuat seseorang harus berhati-hati dalam menggunakan Parasetamol. 

1. Hepatitis atau gangguan hati

Pasien yang menderita hepatitis atau gangguan hati sebaiknya tidak menggunakan Parasetamol. Sebab, obat ini dapat memperburuk kondisi hati dan menyebabkan kerusakan hati yang lebih parah.

Efek parasetamol pada pasien dengan gangguan hati dapat terjadi karena parasetamol diproses di hati dan diubah menjadi senyawa toksik yang disebut N-acetyl-p-benzoquinone imine (NAPQI). Senyawa ini harus segera dibuang dari hati, karena bila terakumulasi akan menyebabkan kerusakan sel hati yang tentu akan memperberat kerusakan yang sudah terjadi. 

Pada pasien gangguan hati, eliminasi senyawa NAPQI dari tubuh bisa terganggu. Hal ini dapat membuat risiko kerusakan hati akibat parasetamol semakin tinggi. Selain itu, pasien dengan gangguan hati memiliki kadar glutathione yang rendah. Glutathione adalah senyawa yang membantu menghilangkan senyawa NAPQI dari tubuh pasien.¹

Tuesday, April 4, 2023

FORMULARIUM OBAT DI MASA PERADABAN ISLAM

 Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes, M.Fam.Klin

Sejak mendirikan Negara Islam di Madinah, Rasulullah telah meletakkan pondasi kuat untuk membangun peradaban besar yang berpengaruh di dunia. Berkat perjuangan para Sahabat dan generasi setelahnya umat Islam telah berhasil menguasai wilayah yang dulu dikuasai oleh kekaisaran Romawi dan Persia. Tidak hanya mendapatkan wilayah baru untuk diterapkan hukum-hukum Allah SWT,umat Islam pun mendapat limpahan ilmu pengetahuan yang menjadi modal untuk membangun peradaban yang lebih kuat.

Sepanjang sejarah kekuasaan Khilafah Islam, tak jarang ujian berupa wabah penyakit terjadi. Wabah penyakit melanda di beberapa wilayah negara, bersyukur, para pemegang kebijakan mau melaksanakan perintah Nabi SAW untuk menyerahkan masalah pada ahlinya, wabah pun dapat dilokalisir dan tidak sampai menyebar ke daerah lain. Peradaban yang maju dapat dilihat dari upaya kesehatan yang dilakukan, preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif. Tidak mungkin sebuat peradaban berkembang tanpa modal kesehatan penduduknya. Kegiatan dakwah dan jihad dapat berlangsung sukses jika para dai dan tentara dalam kondisi sehat. Ekonomi dapat berjalan bila ancaman wabah penyakit sirna. Pendidikan bisa berjalan dengan baik jika guru dan murid terjaga kesehatannya.

Seluruh upaya kesehatan pasti melibatkan penggunaan bahan yang berfungsi untuk memperbaiki kondisi tubuh.  Penelitian dan penelusuran pustaka-pustaka kuno dari berbagai peradaban telah dilakukan oleh peneliti di era khilafah untuk menemukan obat yang berkhasiat dan aman. Ilmu tentang bahan obat dan obat akan berkembang seiring dengan meluasnya kekuasaan Islam. Buku-buku pengobatan Yunani, Mesir, Persia dan Roma telah diterjemahkan kedalam bahasa arab dan menjadi kajian penting dalam bidang kesehatan khusunya farmasi. Penelitian-penelitian tentang komposisi, formulasi dan khasiat  dilakukan oleh para dengan standar tertinggi pada masanya. 

Obat-obat yang telah ditemukan dikompilasi dalam bentuk formularium agar lebih mudah untuk dipelajari dan diaplikasikan dalam praktik klinik. Pembuatan fomularium mengadopsi formularium bangsa Yunani, hal ini tidak menjadi kendala bagi umat Islam, karena formularium adalah hasil ilmu pengetahuan yang bebas nilai sehingga dapat diterima oleh syariat. Formularium sendiri dapat didefinisikan sebagai dokumen yang memuat sediaan obat dan informasi penting lainnya yang merefleksikan keputusan klinik mutakhir.

Berikut beberapa nama-nama ilmuan di era kejayaan Islam  dan karya-karya nya dalam bidang farmasi yang dapat dianggap sebagai formularium pada masanya.

1.       Abu Hanifa Al-Dinawari (lahir : 815 M, wafat : 895/902 M)

Beliau adalah seorang ahli astronomi, botani dan sejarah. Beliau mengupas dan membedah botani lewat karyanya Kitab al-Nabat (Buku Tumbuh-tumbuhan) yang terdiri atas enam volume yang mencakup 637 jenis tanaman. Hanya saja beberapa volume telah punah, hanya volume ketiga dan kelima yang tersisa.  Buku beliau menjadi dasar untuk pencarian tumbuhan obat dan pengembangannya obat nabati (Golshani et al., 2015).

 

2.       At-Tabari (Lahir : 838 M, Wafat : 870 M)

Beliau adalah seorang ahli kedokteran, botani dan psikologi. Karya beliau dibidang medis adalah kitab Firdaus Al-Hikmat At-Tabari yang terdiri dari tujuh jilid. Pada jilid keenam kitab ini menjelaskan tentang obat-obatan dan racun-racun (Ghaffari et al., 2014).

 

3.    Abu Bakar Ar-Razi (lahir : 854 M, wafat : 932 M)

Selain ahli dalam bidang kedokteran, beliau pun ahli dalam bidang farmakognosi, beliau telah membagi obat-obatan yang berasal dari tanaman, hewan dan mineral. Kitab yang beliau karang, Al-Asrar, berisi tentang obat-obatan dan cara pencampurannya. Hingga abad ke 19 kitab ini masih menjadi buku pegangan praktikum kedokteran (Amr & Tbakhi, 2007).

 

4.       Ibnu Juljul (wafat : 994 M)

Beliau menterjemahkan buku De Materia Medica Disocorides kedalam bahasa arab dan menambahkan banyak substansi baru seperti tamarin, champora, kayu cendana, dan kapulaga. Ia pun mengidentifikasi banyak tumbuhan baru yang memiliki efek pengobatan untuk beberapa penyakit (Al-Hassani, 2012).

 

5.       Al-Biruni (Lahir : 973 M, wafat : 1051 M)

Beliau menulis kitab yang berjudul Asy-Syahdalah (ramuan-ramuan) yang diterjemahkan dalam bahasa latin dengan judul Continens. Al-Biruni menjelaskan tentang ramuan-ramuan obat dan tata cara dalam pembuatan obat, termasuk menjelaskan peralatan yang diperlukan (Hamarneh, 1976).

 

6.       Abu Bakar Hamid Ibnu Samajun (w.1002)

Ibnu Samajun adalah seorang dokter yang menulis sebuah buku yang sangat luar biasa, buku tebal nya diberi judul al-Jami‘ li-aqwal al-qudama’ wa-al-muhdathin min al-aibba’ wa-al-mutafalsifin fī l-adwiyah al-mufradāh   (The Compendium on Simple Drugs with Statements of Ancient and Modern Physicians and Philosophers). Beliau pun menulis buku formularium yang diberi judul Al-Aqrabadin yang berisi komposisi obat yang bermanfaat untuk praktik kedokteran (Ullmann, 1970).  

 

7.       Al-Ghafiqi (wafat : 1165)

Beliau adalah seorang ahli obat-obatan yang berasal dari Andalusia, beliau mengumpulkan dan mengkaji berbagai jenis tumbuhan yang diperolehnya dari wilayah Spanyol dan Afrika. Beliau menulis kitab yang berjudul Al-Jami Al-Adwiyyah Al-Mufradah yang berisi tentang komposisi obat, dosis dan tata cara meracik (Sudewi & Nugraha, 2017).

 

8.       Ibnu Al-Suri (Lahir : 1177 M, wafat : 1241 M)

Beliau menulis kitab Al-Adwiyat Al-Mufradah yang berisi tentang obat-obat sederhana yang bersumber dari bahan tumbuhan. Kitab ini memiliki kelebihan yaitu adanya lukisan tumbuhan obat yang dimaksud. Untuk membuat kitab ini beliau mempekerjakan pelukis untuk dapat menggambarkan sketsa tumbuhan mulai dari tahap pertumbuhannya dengan menggunakan pewarna (Ali, 1996).

 

9.       Ibnu Al-Baythar (Lahir : 1197 M, Wafat : 1248 M)

Beliau dikenal sebagai dokter hewan, ahli botani dan farmakologi. Selama beliau di Mesir beliau ditunjuk sebagai “Kepala Ahli Maramu Obat”. Setelah meninggalkan Kairo beliau berkelana ke Malaga, Marrakesh, Suriah, dan Asia Kecil, untuk mencari tanaman obat. Buku-buku beliau terkait kompilasi obat-obatan antara lain Al-Mughni fi al-Adwiya’ al-Mufradat, kitab ini berisi tentang ramuan-ramuan obat yang disusun disesuaikan dengan bagian-bagian tubuh yang harus didahulukan untuk menyembuhkan penyakit. Buku yang beliau tulis pula adalah  Al-jami’ li Mufradat al-Adwiyah wa al-Ahdhiya,  buku ini berisi tentang 1400 contoh obat. Buku lainnya adalah Al-Jamii fi Al-Tibb, buku ini mengupas tentang beragam tubuhan obat, kurang lebih ada seribu tumbuhan yang dibahas. Buku terakhir adalah Al-Adwiyat al-Basyithah, yang berisi tentang ramuan-ramuan obat sederhana (Ullmann, 1970).

Itulah beberapa ilmuan farmasi ternama yang membuat formularium terkait obat. Tidak dapat dipungkiri bahwa peradaban Islam telah mewariskan ilmu yang luar biasa untuk seluruh penduduk di dunia ini. Hal ini membuktikan bahwa Islam tidak menghambat perkembangan ilmu, malah sebaliknya Islam akan mendorong manusia untuk melakukan penemuan-penemuan di bidang kesehatan, sains dan teknologi.

 

Referensi :

Al-Hassani, S. T. S. (Ed.). (2012). 1001 Invention The Enduring Legacy of Muslim Civilization (3rd ed.). National Geograpich.

Ali, A. (1996). Islamic Dynasties of the Arab East: State and Civilization During the Later Medieval Times. M.D. Publications Pvt. Ltd.

Amr, S. S., & Tbakhi, A. (2007). Abu Bakr Muhammad Ibn Zakariya Al Razi (Rhazes): Philosopher, Physician and Alchemist. Annals of Saudi Medicine, 27(4), 305–307. https://doi.org/10.5144/0256-4947.2007.305

Ghaffari, F., Naseri, M., Asghari, M., & Naseri, V. (2014). Abul- Hasan al-Tabari: A review of his views and works. Archives of Iranian Medicine, 17(4), 299–301. https://doi.org/014174/AIM.0015

Golshani, S. A., Daneshfard, B., Mosleh, G., & Salehi, A. (2015). Drugs and Pharmacology in the Islamic Middle Era. Pharmaceutical Historian, 45(3), 64–69.

Hamarneh, S. K. (1976). The pharmacy and materia medica of al-Biruni and al-Ghafiqi—A comparison. Pharmacy in History, 18(1), 3–12.

Sudewi, S., & Nugraha, S. M. (2017). Sejarah Farmasi Islam dan Hasil Karya Tokoh-Tokohya. 2(1), 57–71.

Ullmann, M. (1970). Die Medizin im Islam. E.J. Brill Leiden, VI(I).