Showing posts with label Farmakologi. Show all posts
Showing posts with label Farmakologi. Show all posts

Monday, March 23, 2026

BAKTERIOFAG: SENJATA PRESISI DI TENGAH ANCAMAN RESISTENSI ANTIBIOTIK

 apt. Ilman Silanas, M.Kes.,M.Farm.Klin


Krisis resistansi antimikroba (AMR) telah mencapai titik kritis di mana infeksi bakteri yang dulunya mudah diobati kini menjadi ancaman mematikan. Di tengah kebuntuan penemuan molekul antibiotik baru, terapi bakteriofag muncul sebagai terobosan paling menjanjikan. Bakteriofag, atau faga, adalah virus alami yang secara spesifik menargetkan dan mereplikasi diri di dalam sel bakteri hingga menyebabkan lisis (kematian sel). Sebagai musuh alami bakteri, faga menawarkan mekanisme aksi yang sepenuhnya berbeda dari antibiotik, menjadikannya harapan baru bagi pasien yang sudah tidak lagi merespons pengobatan konvensional.

Keunggulan utama terapi faga terletak pada spesifisitasnya yang luar biasa tinggi terhadap inang tertentu. Berbeda dengan antibiotik spektrum luas yang sering kali menghancurkan mikrobiota usus yang bermanfaat, faga hanya menyerang bakteri patogen target tanpa mengganggu keseimbangan ekosistem mikroba tubuh manusia. Selain itu, faga bersifat "swasembada" atau auto-dosing; mereka akan terus bereplikasi selama bakteri target masih ada dan akan tereliminasi secara alami oleh tubuh setelah infeksi mereda. Kemampuannya untuk menembus biofilm bakteri—lapisan pelindung yang seringkali menjadi benteng pertahanan terakhir bagi superbug—memberikan keunggulan klinis yang signifikan.

Tuesday, April 11, 2023

MENGENAL OBAT UNTUK PENYAKIT JANTUNG KORONER

apt. Ilman Silanas, M.Kes., M.Farm.Klin

Kali ini saya akan mengajak pembaca sekalian untuk mengenal obat-obatan  yang biasa digunakan dalam pengobatan penyakit Coronary Arterial Disease (CAD) atau Penyakit Jantung Koroner (PJK). Berikut adalah beberapa obat yang umum digunakan dalam pengobatan CAD beserta mekanisme kerjanya:

1. Antiplatelet, seperti Aspirin dan Clopidogrel: Obat ini bekerja dengan menghambat pembentukan bekuan darah dengan menghambat aktivasi platelet. Aspirin bekerja dengan menghambat enzim siklooksigenase (COX) dan mereduksi produksi tromboksan A2, sedangkan Clopidogrel bekerja dengan menghambat reseptor ADP pada platelet.

Monday, April 10, 2023

HATI-HATI MENGGUNAKAN PARASETAMOL PADA KONDISI INI !!!!

Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes., M.Farm.Klin

Parasetamol adalah obat penurun demam dan penghilang rasa sakit yang umum digunakan. Namun, ada beberapa kondisi tertentu yang membuat seseorang harus berhati-hati dalam menggunakan Parasetamol. 

1. Hepatitis atau gangguan hati

Pasien yang menderita hepatitis atau gangguan hati sebaiknya tidak menggunakan Parasetamol. Sebab, obat ini dapat memperburuk kondisi hati dan menyebabkan kerusakan hati yang lebih parah.

Efek parasetamol pada pasien dengan gangguan hati dapat terjadi karena parasetamol diproses di hati dan diubah menjadi senyawa toksik yang disebut N-acetyl-p-benzoquinone imine (NAPQI). Senyawa ini harus segera dibuang dari hati, karena bila terakumulasi akan menyebabkan kerusakan sel hati yang tentu akan memperberat kerusakan yang sudah terjadi. 

Pada pasien gangguan hati, eliminasi senyawa NAPQI dari tubuh bisa terganggu. Hal ini dapat membuat risiko kerusakan hati akibat parasetamol semakin tinggi. Selain itu, pasien dengan gangguan hati memiliki kadar glutathione yang rendah. Glutathione adalah senyawa yang membantu menghilangkan senyawa NAPQI dari tubuh pasien.¹

Tuesday, September 8, 2020

IMMUNE BOOSTER UNTUK LANSIA


Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes

Lanjut Usia (Lansia) merupakan kelompok individu dengan usia  65 tahun keatas. Pada kelompok ini infeksi bakteri, virus dan jamur seringkali terjadi. Seiring pertambahan usia, fungsi sistem imunitas mengalami penurunan yang menyebabkan berkurangnya respon tubuh terhadap infeksi. Infeksi yang sering terjadi adalah pneumonia bakterial, influenza, infeksi kulit, infeksi saluran cerna, dan infeksi saluran kemih.[1]  Salah satu studi Harvard University menyatakan bahwa penyakit infeksi yang tanpa gejala dapat menyebabkan demensia (penyakit saraf yang dapat menyebabkan penurunan daya ingat pada lanjut usia).[2] Selain dapat menyebabkan penurunan kognitif, infeksi saluran nafas seperti pneumonia pada kelompok usia di atas 85 tahun meningkatkan risiko 32 kali lebih besar tingkat kematian dibandingkan dengan lansia yang berumur 65 hingga 69 tahun[3].

Masa pandemi COVID-19 menjadi ancaman yang serius bagi kesehatan lansia. Risiko paling tinggi dialami oleh lansia yang berusia di atas 80 tahun dengan angka kematian yang mencapai 21,9% dibandingkan pasien corona dari kategori usia lainnya.[4] Kepala Divisi Alergi dan Imunologi Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, dr. Deshinta Putri Mulya, M.Sc., Sp.PD-KAI., FINASIM, menyatakan bahwa menguatkan imunitas tubuh adalah hal yang sangat penting selama masa pandemi COVID-19.[5]

Friday, December 22, 2017

MENGAPA TIDAK ADA ANTIBIOTIK BARU ?

Oleh : Ilman Silanas, Apt., M.Kes
Apoteker RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung


Antibiotik, “keajaiban” dunia medis dalam mengadapi infeksi bakteri. Sejak ditemukan tahun 1928 antibiotik telah menyelamatkan jutaan nyawa manusia. 97 tahun berlalu, dibalik cerita sukses, kini antibiotik mengadapi “era kegelapan”, Post Antibiotic Era.

Post Antibiotic Era adalah masa dimana penyakit infeksi yang mengancam jiwa tidak dapat diatasi karena antibiotik tidak lagi efektif disebabkan permasalahan resistensi. Pada masa ini tidak ada antibiotik  jenis baru yang lebih efektif, karena tidak ada lagi produsen yang mau melakukan penelitian dan pengembangan antibiotik baru.

Tuesday, December 13, 2016

PENJELASAN SINGKAT KARBAPENEM

Oleh : Ilman Silanas, Apt.,M.Kes (Apoteker RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung)


Karbapenem merupakan antibiotik spektrum paling luas bila dibandingkan dengan semua kelas antibiotik.

Pola kerja yang hampir sama dengan penisilin, Karbapenem meripakan antibiotik dengan sifat bakterisida  yang berikatan dengan penisilin binding proteins (PBPs). Pengikatan ini menjadikan protein tidak aktif, karbapenem menghambat sistesis dinding sel bakteri sehingga bakteri mengalami kematian. 1,2



Beberapa jenis Karbapenem memiliki afinitas spesifik pada beberapa subtype PBPs. Beberapa bakteri menunjukkan sifat resistensi intrinsik pada karbapenem. 1,2

Sebagai contoh, methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) resisten pada PBP2a, sementara Enterococcus faecium resisten pada PBP5. Resistensi pun terjadi disebabkan adanya aktivitas porin (contoh OprD-Protein yang terdapat pada membran luar sel bakteri-), yang terjadi pada Pseudomonas aeruginosa. 1,2

Saturday, July 23, 2016

VAKSIN DAN AUTISME

Oleh : Ilman Silanas,Apt.,M.Kes
(Apoteker RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung)

Vaksin kini menjadi sorotan, tidak hanya karena urusan vaksin palsu, akan tetapi isu lama yang kembali terulang. Isu tersebut adalah kandungan zat berbahaya dalam vaksin yang bernama Thimerosal. Thimerosal dituduh menjadi faktor penyebab Autisme pada anak. Hal ini karena Thimerosal mengandung raksa (merkuri). Bila ingat merkuri maka yang ada dalam benak kita adalah logam berat penyebab kasus Minamata di Jepang. Semua orang yang mengetahui kejadian Minamata pasti akan merasa takut bila hal tersebut terjadi pada diri atau keluarganya.

Tulisan ini dibuat dalam rangka menjelaskan hakekat Thimerosal dan vaksin serta keamanannya. Penyusunan tulisan ini dilakukan dengan melakukan pengutipan dari sumber-sumber pustaka terkait bahan tambahan farmasi dan publikasi yang dilakukan oleh Centers for  Diseases Control (CDC) Amerika Serikat yang memang secara kontinu melakukan pengkajian terhadap masalah ini.

Thursday, July 14, 2016

KOMBINASI ANTIBIOTIK PENYEBAB KEMATIAN MENDADAK

Oleh :
Pendiri AudibleRx pada tahun 2011. AudibleRx adalah situs atau aplikasi yang menyajikan Consumer Medication Information (CMI) dalam bentuk audio.

Diterjemahkan Oleh :
Ilman Silanas, Apt.,M.Kes
Apoteker RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung

Pengkajian terkait peresepan terus dilakukan. Sebuah penelitian yang dirilis oleh British Medical Journal menunjukkan kombinasi Trimetoprim/  Sulfametoksazol sebagai salah satu penyebab meningkatnya risiko kematian mendadak pada populasi tertentu. Data penelitian dikumpulkan selama 17 tahun, dari tahun 1994 hingga 2012, mencakup pasien dengan usia 66 tahun ke atas yang menjalani terapi Angiotensin Converting Enzym (ACE) inhibitor atau Angiotensin Receptor Blocker (ARB), dan meninggal secara mendadak 7 hingga 14 hari setelah memulai rawat jalan dengan terapi antibiotik oral.

Sunday, July 10, 2016

BAGAIMANA PROSES TERJADINYA RESISTENSI ANTIBIOTIK ?

Sumber : http://www.cdc.gov/getsmart/community/images/how-ar-happens.jpg

BAGAIMANA RESISTENSI ANTIBIOTIK MENYEBAR ?

Sumber : http://www.cdc.gov/getsmart/community/images/howar-spreads.jpg

ANTIBIOTIK MANA YANG TERMASUK DALAM KATEGORI TIME DEPENDENT (TD) DAN CONCENTRATION DEPENDENT (CD)?

Oleh :
Laura S. Lehman, PharmD
Clinical Coordinator, Pharmacy, Carroll Hospital Center, Westminster, Maryland
24 Oktober 2007


Diterjemahkan dengan penambahan Oleh : 
Ilman Silanas, Apt.,M.Kes
(Apoteker RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung)

Pertanyaan :

Dapatkah anda memberikan daftar antibiotik yang terkategori Time Dependent dan Concentration Dependent, termasuk antibiotik baru Tigesiklin ? dapatkah Tigesiklin diberikan sehari sekali daripada setiap 12 jam ?

Jawab :

Farmakologi antibiotik mencakup Farmakokinetika dan Farmakodinamik. Farmakokinetik membahas konsentrasi dan waktu obat selama dalam host (tubuh pasien), sedangkan Farmakodinamik membahas konsentrasi dan waktu interaksi yang diperlukan antibiotik untuk memerangi patogen dalam host 1. Dua jenis utama Kategori Farmakodinamik antibiotik  yaitu Time-Dependent  bactericidal Effect (Efek bakterisida bergantung waktu) dan Concentration Dependent Bactericidal Effect (Efek Baktersida bergantung Konsentrasi). Kategori ketiga yang telah dapat diuraikan, yaitu antibiotik yang memiliki karakter gabungan Time dependent dan Concentration Dependent 2.