Saturday, August 6, 2016
WANITA ANTARA RUMAH TANGGA DAN PEKERJAAN
Tuesday, November 22, 2011
Batasi Asupan Sukrosa Anak
www.seputar-indonesia.com. Anda mesti mewaspadai asupan gula atau disebut juga dengan sukrosa yang berlebihan pada makanan anak. Selain dapat menyebabkan kegemukan, sukrosa juga bisa menyebabkan anak kekurangan gizi. Sukrosa termasuk ke dalam jenis gula alamiah yang terdapat dalam makanan hasil alam tanpa proses pengolahan buatan. Jenis gula ini dikenal juga dengan gula pasir,gula meja, gula merah, dan lainnya. Selain sukrosa,jenis gula alamiah yaitu fruktosa dan laktosa. Meskipun zat gizi ini berfungsi menghasilkan sumber energi, jika dikonsumsi secara berlebihan akan mengganggu keseimbangan energi, termasuk pada anak-anak.
Akibatnya, energi yang dihasilkan akan melebihi kebutuhan sesuai usianya dan mengendap menjadi lemak.Tidak heran,anak akan menghadapi risiko obesitas atau kegemukan. Diketahui,obesitas pada anak mengalami peningkatan pesat seperti dipaparkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di mana pada 1990 jumlah anak yang mengalami obesitas terdapat 26,9 juta anak dan meningkat menjadi 42,8 juta pada 2010.
Di Indonesia sendiri, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 jumlah anak yang mengalami obesitas sebanyak 12% pada kelompok usia 0–5 tahun,10% pada kelompok anak laki-laki umur 6–14 tahun, 6% pada anak perempuan 6–14 tahun dan 19% pada anak berusia diatas 15 tahun.Ditengarai,penambahan sukrosa pada susu anak menjadi salah satu biang keladinya.
“Penambahan gula saat membuat susu anak tidak dianjurkan. Selain itu,jangan mengenalkan makanan terlalu manis pada anak berusia di bawah dua tahun,” kata dr Ahmad Suryawan SpA (K), Ketua Divisi Tumbuh Kembang Anak dan Remaja, Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr Soetomo,Fakultas Kedokteran,Universitas Airlangga (Unair) Surabaya di Jakarta, Rabu (9/11).
Rekomendasi dan regulasi pediatri terbaru di dunia, lanjut dia, banyak yang tidak mengizinkan penambahan sukrosa ke dalam susu formula (sufor) bayi. Kalaupun boleh, hanya diperkenankan pada kondisi-kondisi tertentu. Seperti pada kasus formula protein hidrolisat parsial,penambahan sukrosa diperbolehkan dalam jumlah tertentu.
Bagi ibu yang oleh petugas kesehatan dinyatakan mengalami indikasi medis sehingga tidak dapat memberikan air susu ibu (ASI) atau harus mencampurnya dengan sufor, maka perlu memperhatikan kandungan dari sufor tersebut. “Penting diketahui orang tua untuk menghindari sukrosa selama enam bulan pertama kehidupan anak,” kata Ahmad.
Sumber karbohidrat pada anak, lanjut dia,telah didapatkan dari air susu ibu (ASI),terutama pada enam bulan pertama kehidupannya dan sangat diharapkan dapat diberikan hingga anak berusia dua tahun. Komposisi di dalam ASI tidak mengandung sukrosa, tetapi laktosa atau yang dikenal sebagai gula susu. “Laktosa tidak hanya menyediakan 40% energi, juga mendukung pertumbuhan flora usus yang sehat dan meningkatkan imunitas bayi melawan bakteri patogen,” tandas Ahmad.
Dia mengemukakan, asupan sukrosa dan kesukaan pada rasa manis tidak hanya meningkatkan risiko obesitas, asupan makanan yang mengandung gula total yang tinggi juga akan memengaruhi kecukupan asupan mikronutrien. “Bukti yang berkembang memperlihatkan bahwa makanan yang ditambahkan dan tinggi kandungan gula totalnya,telah terbukti berhubungan nyata dengan asupan mikronutrien yang lebih rendah dan mungkin saja akan memengaruhi pertumbuhan anak kelak,” kata Ahmad.
Dalam sebuah penelitian di Finlandia, lanjut Ahmad, terbukti anak-anak yang asupan sukrosanya rendah memiliki kualitas pertumbuhan dan asupan nutrisi yang lebih baik dalam jangka panjang. “Selain itu, anak yang sukrosanya rendah memiliki peningkatan tinggi badan 1,5 cm lebih panjang dibanding anak yang sering mengasup sukrosa,”katanya.
Sementara itu,Koordinator Pelayanan Masyarakat Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dr Inge Permadhi MS SpGK mengatakan, sukrosa yang dikenalkan sejak awal pada bayi akan memengaruhi preferensi makanan. Hal tersebut dapat menyebabkan risiko gangguan kesehatan,di antaranya menyebabkan anak kekurangan gizi.
Menurut Inge, hal ini terjadi karena gizi makro dan mikro lainnya akan tergeser. “Jika pola makan anak didominasi karbohidrat otomatis asupan gizi penting lainnya, seperti lemak atau protein akan berkurang,”paparnya. Selain risiko jangka panjang seperti peningkatan risiko obesitas dan kekurangan gizi, juga berdampak jangka pendek seperti menderita karies gigi.
Temuan ini diperkuat oleh jurnal yang dipublikasi Institute of Medicine pada 2005 dan The American Academy of Pediatric Dentistry pada 2008. Karies dapat dicegah dengan menghindari pemberian sukrosa pada makanan bayi,termasuk pada sufor bayi dan menjaga kebersihan gigi serta mulut setiap kali anak usai makan dan minum susu.
Studi oleh Manella pada 2004, kata Inge, menunjukkan bahwa ada periode sensitif pada masa bayi dan anak di mana suka dan ketidaksukaan yang terbentuk pada masa tersebut akan memengaruhi pola makan saat dewasa.
Hal ini menjadi pertimbangan penting pada penanganan dan pencegahan kelebihan berat badan yang meningkat secara dramatis di masa kanak-kanak dan remaja di banyak negara. ● rendra hanggara
Wednesday, November 16, 2011
10 Kesalahan Orang tua Dalam Mendidik Anak
Judul asli : 10 most Common Mistake Good Parents Make : And How to Avoid Them Penulis : Kevin Steede,Ph.D
Tentang Penulis
Kesalahan 1 : Menanam “Ranjau Mental”
Ranjau Mental Pertama : Harus Menjadi yang terbaik dalam segala hal
Kebanyakan orang tua ingin mendorong buah hatinya untuk melakukan hal yang terbaik dalam hidup ini. Orang tua ingin anak-anak mereka bebas menggali bakat dan minat yang dimilikinya. Kendati bertujuan baik para orang tua bias saja tanpa sengaja mengirimkan pesan-pesan yang sebanarnya tidak ditujukan kepada buah hatinya.
Ada garis tipis yang memisahkan antara memotivasi anak-anak untuk melakukan yang terbaik bagi dirinya dengan memupuk keyakinan yang salah bahwa “anak harus menjadi yang terbaik dalam segala hal”. Perangkap atau ranjau mental ini tertanam pada saat kita mendorong anak-anak ke dalam aktivitas yang kurang diminati anak. Ranjau mental ini akan tertanam ke dalam benak buah hati setiap kali kita menerima hasil yang kurang memuaskan dari aktivitas yang mereka lakukan.
Apabila ranjau mental menjadi suatu keyakinan dalam diri anak menyebabkan rasa percaya diri anak mengalami erosi yang sangat drastis. Sangat tidak mungkin bagi seorang anak untuk menjadi yang terbaik dalam segala hal. Anak yang merasa tidak menjadi yang terbaik dengan segera akan meyakini bahwa ia telah mengecewakan orang tua dan diri sendiri. Beberapa orang dewasa yang telah tertanam ranjau ini pada saat masa kanak-kanaknya sering menjadi mudah marah atau depresi ketika merasa tidak mampu memenuhi apa yang diharapkan oleh orang lain.
Untuk menghindari efek dari ranjau mental ini, anak-anak perlu diperkenalkan dengan berbagai aktivitas dan didorong untuk mengeksplorasi lebih jauh minat mereka. Mereka perlu mengerti bahwa setiap orang memiliki minat dan kemampuan yang berbeda. Selain itu, juga memiliki kombinasi antara kekuaran dan kelemahan yang unik pada setiap manusia.
Contoh kasus :
Seorang ibu membawa kedua putranya ke kantor saya. Ibu ini berfikir mungin telah terjadi sesuatu yang ‘salah’ terjadi pada mereka. Putra ibu yang berumur 8 tahun memiliki ukuran tubuh yang relative kecil. Menurut ibu tersebut anak itu tidak menunjukan minat pada olah raga, tetapi lebih memilih menghabiskan waktu di depat computer. Sepertinya, ia memiliki bakat di bidang IT. Sementara adik perempuannya lebih menyukai bidang atletik dan menjauhkan diri dari bidang keperempuanan.
Orang tua anak-anak tersebut telah menghabiskan banyak waktu dan energi untuk memaksa putra mereka ke dalam kegiatan olah raga dan mendorong putri mereka agar keluar dari aktivitas yang disenanginya. Hasilnya, dua anak tersebut merasa harga diri mereka jatuh ketika tidak berhasil dalam aktivitas pilihan orang tua mereka. Saya menganjurkan agar sang ibu membiarkan anak-anaknya menghabiskan waktu untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang diminatinya dan sesuai dengan bakat mereka.
Beberapa tahun kemudian, ibu kedua anak tersebut menelepon saya. Ibu tersebut menceritakan bahwa putrinya menjadi juara lomba atletik tingkat pelajar di kotanya, sedangkan putranya baru-baru ini berhasil membuat suatu program game PC dan sudah dikontrak oleh sebuah perusahaan IT yang cukup besar untuk didistribusikan. Sungguh mengharukan.
Nilai moral yang bisa dipetik dari kisah di atas adalah anak-anak semestinya didorong untuk menggali minat mereka sendiri, bukan minat yang diharapkan oleh orang tua. Walaupun kita bisa memetik keuntungan besar yang akan diperoleh dengan memberi dorongan kepada anak untuk memilih bakatnya, tetapi masih banyak orang tua yang masih memaksa anak-anaknya untuk menggeluti suatu bidang yang nyata-nyata tidak diminati oleh anak-anaknya. Biasanya, orang tua yang demikian hanya melihat suatu ‘kesuksesan’ belaka, baik kesuksesan pada dirinya atau orang lain. Mereka ingin melihat kesuksessan seperti itu pada diri anak, walaupun dengan cara memaksakannya. Atau orang tua seperti ini karena kurang sempurna di suatu bidang sehingga memaksa anaknya agar mengimbang ikekurangan itu. Orang tua dengan motivasi yang baik justru akan memperkaya hidup mereka dengan berpartisipasi dan menikmati hal-hal yang diminati oleh anak-anaknya.Monday, November 14, 2011
6 Anggapan Keliru Soal ASI

KOMPAS.com - Kesadaran akan pentingnya pemberian ASI secara eksklusif perlu terus ditanamkan pada setiap perempuan dan calon ibu. Tetapi sayangnya, masih ada saja anggapan keliru di masyarakat terkait pemberian ASI.
Padahal, pemberian ASI ekslusif akan memberikan keuntungan ganda baik bagi anda maupun bayi. Agar tidak ada lagi mitos keliru, berikut ini adalah beberapa hal-hal keliru yang dapat memicu kegagalan ASI. Mitos dan info keliru ini perlu diluruskan agar setiap bayi mendapatkan haknya meminum ASI dari ibunya :
1. Tanpa ASI anak tetap sehat
Jika dilihat dari luar memang tampak sehat. Tetapi tahukah Anda, bahwa bayi yang tidak mendapat ASI sebenarnya lebih rentan terpapar penyakit dan alergi seperti ekzema (radang kulit), rinitis alergik dan asma. Beberapa penelitian menunjukkan bayi yang tidak diberikan ASI lebih berisiko untuk mendapat diabetes dan obesitas dikemudian hari.
2. Payudara kecil berarti ASI sedikit
Ukuran payudara ditentukan oleh jaringan lemak, yang tidak terkait dengan produksi susu. Produksi susu tergantung pada ukuran kelenjar mamari di dalam payudara.
3. ASI bikin payudara kendur
Pemberian ASI tidak menyebabkan payudara menjadi kendur. Kendurnya payudara lebih disebabkan karena faktor usia dan gravitasi. Bahkan, pemberian ASI dapat membantu Anda mempercepat proses pelangsingan dengan membakar lemak yang tersimpan saat hamil. ASI eksklusif juga merangsang pengeluaran hormon yang membantu kontraksi dan mengembalikan rahim pada ukuran yang semula.
4. Memberi ASI menyakitkan
Sebenarnya tidak. Meskipun ada sejumlah ibu yang mungkin rasa sedikit bengkak pada tahap awal, tetapi kondisi ini tidak akan terus berlanjut. Jika Anda masih merasa sakit, ini mungkin disebabkan mulut bayi tidak menghisap puting dan areola dengan benar. Belajarlah untuk membantu bayi menyusu dengan cara yang benar.
5. ASI menyusahkan
Memberikan ASI sebenarnya memudahkan Anda. Anda tidak perlu membawa peralatan, tidak perlu khawatir tentang pasokan susu, penyimpanan dan penyediaan susu. Keuntungan lainnya, pemberian ASI bisa dilakukan setiap saat, di manapun dan tidak perlu biaya.
6. Sibuk bekerja
Pemberian ASI meskipun hanya beberapa minggu atau bulan, akan memberi manfaat kepada bayi. Pekerjaan bukanlah alasan bagi Anda untuk berhenti memberikan ASI. Minta bantuan kepada pembantu di rumah untuk memberikan ASI yang sudah terlebih dahulu diperah. Segera simpan ASI di lemari es agar tetap aman diminum bayi.

