Monday, March 23, 2026

Menakar Efektivitas Kebijakan AMR Dunia: Pelajaran dari 193 Negara Menuju Pembaruan Global 2026

apt. Ilman Silanas, M.Kes.,M.Farm.Klin


Artikel ini merujuk pada studi komprehensif berjudul "Evaluation of antimicrobial resistance governance across 193 countries to inform the 2026 Global Action Plan update" yang diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine pada Maret 2026. Penelitian ini menelaah efektivitas tata kelola Resistansi Antimikroba (AMR)—sebuah ancaman kesehatan global yang bertanggung jawab atas sekitar 4,71 milat kematian pada tahun 2021—di 193 negara sepanjang periode 2017 hingga 2022. Dengan menggunakan indeks tata kelola One Health yang multidimensi, studi ini mengevaluasi sejauh mana rencana aksi nasional (NAP) telah berhasil menekan prevalensi bakteri resistan dan penggunaan antimikroba di sektor manusia, hewan, dan lingkungan. Temuan ini menjadi peringatan penting menjelang pembaruan Rencana Aksi Global (GAP) tahun 2026, dengan menyoroti adanya jeda waktu antara adopsi kebijakan dan hasil nyata di lapangan.

Temuan utama dari penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan skor tata kelola AMR global dari 30,7 menjadi 44,5, meskipun kemajuan ini tidak merata di seluruh domain. Desain kebijakan berkembang paling pesat, namun aspek implementasi dan pemantauan masih tertinggal jauh, terutama di sektor lingkungan dan pertanian. Salah satu poin krusial yang ditemukan adalah adanya jeda waktu (lag) yang signifikan; dampak kebijakan NAP terhadap penurunan prevalensi AMR biasanya baru terlihat sekitar 4 hingga 5 tahun setelah adopsi. Selain itu, meskipun prevalensi AMR menunjukkan tanda-tanda perbaikan di beberapa wilayah, penelitian ini tidak menemukan penurunan yang signifikan dalam penggunaan antimikroba (AMU) secara keseluruhan atau angka kematian terkait AMR selama periode studi.

BAKTERIOFAG: SENJATA PRESISI DI TENGAH ANCAMAN RESISTENSI ANTIBIOTIK

 apt. Ilman Silanas, M.Kes.,M.Farm.Klin


Krisis resistansi antimikroba (AMR) telah mencapai titik kritis di mana infeksi bakteri yang dulunya mudah diobati kini menjadi ancaman mematikan. Di tengah kebuntuan penemuan molekul antibiotik baru, terapi bakteriofag muncul sebagai terobosan paling menjanjikan. Bakteriofag, atau faga, adalah virus alami yang secara spesifik menargetkan dan mereplikasi diri di dalam sel bakteri hingga menyebabkan lisis (kematian sel). Sebagai musuh alami bakteri, faga menawarkan mekanisme aksi yang sepenuhnya berbeda dari antibiotik, menjadikannya harapan baru bagi pasien yang sudah tidak lagi merespons pengobatan konvensional.

Keunggulan utama terapi faga terletak pada spesifisitasnya yang luar biasa tinggi terhadap inang tertentu. Berbeda dengan antibiotik spektrum luas yang sering kali menghancurkan mikrobiota usus yang bermanfaat, faga hanya menyerang bakteri patogen target tanpa mengganggu keseimbangan ekosistem mikroba tubuh manusia. Selain itu, faga bersifat "swasembada" atau auto-dosing; mereka akan terus bereplikasi selama bakteri target masih ada dan akan tereliminasi secara alami oleh tubuh setelah infeksi mereda. Kemampuannya untuk menembus biofilm bakteri—lapisan pelindung yang seringkali menjadi benteng pertahanan terakhir bagi superbug—memberikan keunggulan klinis yang signifikan.

Monday, August 7, 2023

PRINSIP PENGGUNAAN OBAT TRADISIONAL

Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes.,M.Farm.Klin

Secara mendasar, obat tradisional terdiri dari bagian-bagian tanaman atau ekstrak tanaman, hewan dan mineral yang belum dimurnikan yang mengandung berbagai komponen yang seringkali diyakini bekerja secara sinergis. Kebangkitan minat masyarakat baru-baru ini terhadap obat tradisional dikaitkan dengan beberapa faktor, antara lain :

  1. Berbagai klaim tentang efikasi atau efektivitas obat-obatan tradisional
  2. Preferensi konsumen terhadap terapi alami dan minat yang lebih besar pada obat alternatif, 
  3. Keyakinan salah bahwa produk obat tradisional lebih unggul daripada produk manufaktur
  4. Ketidakpuasan dengan hasil dari farmasi konvensional dan keyakinan bahwa obat tradisional mungkin efektif dalam pengobatan beberapa penyakit di mana terapi dan obat konvensional terbukti tidak efektif atau tidak memadai,
  5. biaya tinggi dan efek samping dari sebagian besar obat modern, 
  6. peningkatan kualitas, efikasi, dan keamanan obat herbal dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, 
  7. keyakinan pasien bahwa dokter mereka tidak dengan tepat mengidentifikasi masalah; oleh karena itu muncul perasaan bahwa obat tradisional merupakan pilihan lain, dan
  8. pergerakan menuju swamedikasi.

Monday, June 12, 2023

KONSEP BALANCED SCORECARD (BSC) UNTUK PENINGKATAN MUTU RUMAH SAKIT

Oleh apt. Ilman Silanas, M.Kes.,M.Farm.Klin


Pendahuluan

Manajemen mutu di rumah sakit adalah serangkaian proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi mutu pelayanan rumah sakit. Manajemen mutu bertujuan untuk memastikan bahwa setiap aspek pelayanan kesehatan yang diberikan memenuhi standar. Dengan menerapkan manajemen mutu yang baik, rumah sakit dapat meningkatkan kepuasan pasien, meminimalkan risiko kesalahan medis, dan meningkatkan efisiensi operasional.

Manajemen mutu membantu rumah sakit untuk mengidentifikasi dan mengatasi kelemahan dalam sistem pelayanan kesehatan mereka. Hal ini melibatkan pemantauan dan evaluasi yang berkelanjutan terhadap proses dan hasil pelayanan, termasuk pengukuran kinerja dan pelaporan data yang akurat. Dengan adanya manajemen mutu yang efektif, rumah sakit dapat mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki, mengimplementasikan tindakan perbaikan yang tepat, dan mengukur dampaknya terhadap kualitas pelayanan yang diberikan.

Selain itu, manajemen mutu juga berperan penting dalam meningkatkan keselamatan pasien. Dengan adanya sistem yang terstruktur untuk memantau kesalahan dan risiko medis, rumah sakit dapat mengidentifikasi faktor penyebab, mengadopsi praktik terbaik, dan mencegah kejadian yang berpotensi membahayakan pasien. Penerapan manajemen mutu juga membantu memastikan bahwa prosedur medis yang dilakukan di rumah sakit sesuai dengan standar keselamatan yang ditetapkan.

Secara keseluruhan, manajemen mutu merupakan komponen penting dalam upaya rumah sakit untuk memberikan pelayanan yang berkualitas, aman, dan efisien. Dengan adanya manajemen mutu yang baik, rumah sakit dapat terus melakukan perbaikan dan peningkatan yang berkelanjutan, sehingga memberikan manfaat yang maksimal bagi pasien dan masyarakat yang dilayani.

Friday, June 9, 2023

APOTEKER "GOOD TO GREAT"

Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes., M.Farm.Klin
Apoteker RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung
Anggota HISFARSI PD. IAI Jawa Barat


Apa itu "Good to Great" ?

"Good to Great" adalah judul sebuah buku yang ditulis oleh Jim Collins. Buku ini menggambarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Collins dan timnya selama lima tahun untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang membedakan perusahaan yang baik menjadi perusahaan yang luar biasa.
Jim Collins menyusun konsep "Good to Great". Latar belakang penyusunan buku ini terletak pada keinginannya untuk memahami mengapa beberapa perusahaan berhasil mencapai tingkat keunggulan yang luar biasa, sementara yang lain tetap berada di tingkat yang baik namun tidak mencapai keunggulan yang sama.

Collins ingin mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang membedakan perusahaan yang mampu bertransformasi dari "baik" menjadi "hebat" dalam jangka waktu yang lama. Untuk mencapai tujuan ini, ia dan timnya melakukan penelitian selama lima tahun, menganalisis data dari ribuan perusahaan dan mengidentifikasi perusahaan-perusahaan yang berhasil mencapai kinerja yang luar biasa dalam jangka waktu yang signifikan.

Thursday, June 8, 2023

Konsep Dasar Evidence Based Medicine dalam Praktik Kefarmasian

Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes.,M.Farm.Klin


Evidence Based Medicine (EBM) adalah pendekatan dalam pengambilan keputusan medis yang didasarkan pada bukti ilmiah terbaik yang tersedia. Konsep ini bertujuan untuk mengintegrasikan pengetahuan klinis, pengalaman klinis, dan preferensi pasien dengan bukti-bukti ilmiah yang diperoleh melalui penelitian yang berkualitas. EBM mendorong praktisi medis, termasuk apoteker, untuk menggunakan bukti ilmiah yang kuat dalam pengambilan keputusan terkait pengobatan, pencegahan, dan manajemen penyakit.

Penerapan EBM dalam praktik apoteker memungkinkan apoteker untuk menyediakan layanan farmasi yang berkualitas dan berdasarkan bukti. Apoteker dapat menggunakan penelitian klinis, meta-analisis, panduan praktik klinis, dan literatur ilmiah lainnya untuk menghasilkan keputusan yang tepat. Dengan memiliki pengetahuan tentang EBM, apoteker dapat memastikan bahwa rekomendasi mereka didasarkan pada bukti yang kuat dan memberikan manfaat terbaik bagi pasien. Selain itu, EBM juga memungkinkan apoteker untuk terus mengembangkan dan meningkatkan praktik mereka dengan memperbarui pengetahuan melalui penelitian terbaru dan bukti ilmiah yang terkini. Dengan demikian, pengenalan tentang konsep EBM penting bagi apoteker dalam memberikan pelayanan yang optimal dan berdasarkan bukti ilmiah.

Prinsip Dasar EBM

Prinsip Dasar EBM adalah pendekatan yang sistematis dan terstruktur dalam pengambilan keputusan klinis yang didasarkan pada bukti ilmiah yang terbaik yang tersedia. Prinsip-prinsip ini membantu memastikan bahwa praktik klinis didasarkan pada penelitian yang terpercaya dan relevan, serta membantu menghindari keputusan berdasarkan kepercayaan semata atau pengalaman individu yang terbatas. 

Tuesday, April 11, 2023

MENGENAL OBAT UNTUK PENYAKIT JANTUNG KORONER

apt. Ilman Silanas, M.Kes., M.Farm.Klin

Kali ini saya akan mengajak pembaca sekalian untuk mengenal obat-obatan  yang biasa digunakan dalam pengobatan penyakit Coronary Arterial Disease (CAD) atau Penyakit Jantung Koroner (PJK). Berikut adalah beberapa obat yang umum digunakan dalam pengobatan CAD beserta mekanisme kerjanya:

1. Antiplatelet, seperti Aspirin dan Clopidogrel: Obat ini bekerja dengan menghambat pembentukan bekuan darah dengan menghambat aktivasi platelet. Aspirin bekerja dengan menghambat enzim siklooksigenase (COX) dan mereduksi produksi tromboksan A2, sedangkan Clopidogrel bekerja dengan menghambat reseptor ADP pada platelet.

Monday, April 10, 2023

SAYA SUDAH MENGGUNAKAN OBAT HIPERTENSI, TAPI MENGAPA TEKANAN DARAH SAYA TAK KUNJUNG TERKONTROL ?

Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes., M.Farm.Klin

Pertanyaan itu sering diajukan oleh pasien hipertensi yang belum juga mendapat hasil positif dari terapi yang dijalani. Sebuah analisis dari sampel NHANES 2003-2010 yang fokus pada karakteristik orang dengan hipertensi tidak terkontrol menunjukkan bahwa 39,4% subjek tidak menyadari hipertensi mereka, 15,8% menyadari tetapi saat ini tidak menggunakan obat, dan hanya 44,8% menyadari dan sedang menjalani pengobatan.¹ Data tersebut menunjukan ada 44,8% pasien yang menjalani pengobatan tapi hipertensi nya belum juga terkontrol.

Tenaga kesehatan dan juga pasien perlu mengetahui faktor-faktor yang bisa menyebabkan kegagalan pengobatan (medication failure) pada terapi hipertensi. Berikut adalah beberapa faktor-faktor tersebut :

OBAT TRADISIONAL PENURUN BERAT BADAN

Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes., M.Farm.Klin

Obesitas adalah masalah kesehatan global yang terus meningkat. Menurut data WHO, pada tahun 2016, lebih dari 1,9 miliar orang dewasa di seluruh dunia memiliki kelebihan berat badan, dan lebih dari 650 juta orang di antaranya adalah obesitas. Obesitas dapat meningkatkan risiko terjadinya berbagai penyakit, seperti diabetes, penyakit jantung, dan kanker.

Di Indonesia, masalah obesitas juga semakin meningkat. Menurut data Riskesdas 2018, prevalensi obesitas pada orang dewasa di Indonesia meningkat dari 19,4% pada tahun 2013 menjadi 21,8% pada tahun 2018. Obesitas juga semakin sering ditemukan pada anak-anak dan remaja. Faktor-faktor yang menyebabkan meningkatnya kasus obesitas di Indonesia meliputi perubahan pola makan, gaya hidup yang kurang aktif, dan urbanisasi.

Permasalahan obesitas di Indonesia tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga berdampak pada ekonomi negara. Biaya pengobatan penyakit yang disebabkan oleh obesitas sangat tinggi, dan dapat mengurangi produktivitas dan kualitas hidup individu.

Untuk mengatasi masalah obesitas, diperlukan upaya dari berbagai pihak, seperti pemerintah, masyarakat, dan industri makanan. Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gaya hidup sehat, memperbaiki pola makan dan meningkatkan aktivitas fisik, serta mengatur regulasi dan kebijakan terkait makanan dan minuman yang dikonsumsi.

Indonesia sebagai negeri dengan keragaman hayati yang melimpah memiliki tanaman yang berpotensi mengatasi masalah obesitas. Berikut ini adalah lima tanaman herbal yang dapat membantu menurunkan berat badan:

BIJAK MENGGUNAKAN OBAT TRADISIONAL

Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes., M.Farm.Klin

Masyarakat Indonesia masih menjadikan obat tradisional sebagai pilihan untuk mengobati berbagai macam keluhan penyakit. Data  Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2018 menunjukkan 75,6% masyarakat menggunakan obat tradisional. Sementara itu, menurut data dari Asosiasi Pengusaha Suplemen Kesehatan dan Produk Kesehatan Indonesia (APSKI) pada tahun 2019, pangsa pasar herbal dari seluruh pasar produk kesehatan mencapai sekitar 35%.

Pasar obat tradisional di Indonesia terus mengalami peningkatan. Dari data Direktorat Jendral Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan kementrian Kesehatan RI, pada tahun 2006 pasar obat herbal mencapai Rp 5 triliun. Di tahun 2007 dan 2008, pasar obat herbal menjadi Rp.6 triliun dan Rp 7,2 triliun secara berurutan. Pada tahun 2012, pasar obat herbal mencapai Rp 13,2 triliun dengan nilai dalam negeri sebesar Rp12,1 triliun dan ekspor sebesar Rp 1,1 triliun. Pasar obat herbal tersebut meliputi Jamu, obat herbal, minuman herbal, spa dan aroma terapi.¹

HAL-HAL PENTING TENTANG CAMPAK

Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes., M.Farm.Klin

Sebagai Apoteker Ahli Farmasi Klinik saya akan menyampaikan hal hal yang masyarakat harus ketahui tentang penyakit campak: