- Berbagai klaim tentang efikasi atau efektivitas obat-obatan tradisional
- Preferensi konsumen terhadap terapi alami dan minat yang lebih besar pada obat alternatif,
- Keyakinan salah bahwa produk obat tradisional lebih unggul daripada produk manufaktur
- Ketidakpuasan dengan hasil dari farmasi konvensional dan keyakinan bahwa obat tradisional mungkin efektif dalam pengobatan beberapa penyakit di mana terapi dan obat konvensional terbukti tidak efektif atau tidak memadai,
- biaya tinggi dan efek samping dari sebagian besar obat modern,
- peningkatan kualitas, efikasi, dan keamanan obat herbal dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
- keyakinan pasien bahwa dokter mereka tidak dengan tepat mengidentifikasi masalah; oleh karena itu muncul perasaan bahwa obat tradisional merupakan pilihan lain, dan
- pergerakan menuju swamedikasi.
Monday, August 7, 2023
PRINSIP PENGGUNAAN OBAT TRADISIONAL
Monday, April 10, 2023
OBAT TRADISIONAL PENURUN BERAT BADAN
Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes., M.Farm.Klin
Obesitas adalah masalah kesehatan global yang terus meningkat. Menurut data WHO, pada tahun 2016, lebih dari 1,9 miliar orang dewasa di seluruh dunia memiliki kelebihan berat badan, dan lebih dari 650 juta orang di antaranya adalah obesitas. Obesitas dapat meningkatkan risiko terjadinya berbagai penyakit, seperti diabetes, penyakit jantung, dan kanker.
Di Indonesia, masalah obesitas juga semakin meningkat. Menurut data Riskesdas 2018, prevalensi obesitas pada orang dewasa di Indonesia meningkat dari 19,4% pada tahun 2013 menjadi 21,8% pada tahun 2018. Obesitas juga semakin sering ditemukan pada anak-anak dan remaja. Faktor-faktor yang menyebabkan meningkatnya kasus obesitas di Indonesia meliputi perubahan pola makan, gaya hidup yang kurang aktif, dan urbanisasi.
Permasalahan obesitas di Indonesia tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga berdampak pada ekonomi negara. Biaya pengobatan penyakit yang disebabkan oleh obesitas sangat tinggi, dan dapat mengurangi produktivitas dan kualitas hidup individu.
Untuk mengatasi masalah obesitas, diperlukan upaya dari berbagai pihak, seperti pemerintah, masyarakat, dan industri makanan. Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gaya hidup sehat, memperbaiki pola makan dan meningkatkan aktivitas fisik, serta mengatur regulasi dan kebijakan terkait makanan dan minuman yang dikonsumsi.
Indonesia sebagai negeri dengan keragaman hayati yang melimpah memiliki tanaman yang berpotensi mengatasi masalah obesitas. Berikut ini adalah lima tanaman herbal yang dapat membantu menurunkan berat badan:
BIJAK MENGGUNAKAN OBAT TRADISIONAL
Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes., M.Farm.Klin
Masyarakat Indonesia masih menjadikan obat tradisional sebagai pilihan untuk mengobati berbagai macam keluhan penyakit. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2018 menunjukkan 75,6% masyarakat menggunakan obat tradisional. Sementara itu, menurut data dari Asosiasi Pengusaha Suplemen Kesehatan dan Produk Kesehatan Indonesia (APSKI) pada tahun 2019, pangsa pasar herbal dari seluruh pasar produk kesehatan mencapai sekitar 35%.
Pasar obat tradisional di Indonesia terus mengalami peningkatan. Dari data Direktorat Jendral Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan kementrian Kesehatan RI, pada tahun 2006 pasar obat herbal mencapai Rp 5 triliun. Di tahun 2007 dan 2008, pasar obat herbal menjadi Rp.6 triliun dan Rp 7,2 triliun secara berurutan. Pada tahun 2012, pasar obat herbal mencapai Rp 13,2 triliun dengan nilai dalam negeri sebesar Rp12,1 triliun dan ekspor sebesar Rp 1,1 triliun. Pasar obat herbal tersebut meliputi Jamu, obat herbal, minuman herbal, spa dan aroma terapi.¹
Tuesday, September 8, 2020
IMMUNE BOOSTER UNTUK LANSIA
Lanjut Usia (Lansia) merupakan kelompok individu dengan usia 65 tahun keatas. Pada kelompok ini infeksi bakteri, virus dan jamur seringkali terjadi. Seiring pertambahan usia, fungsi sistem imunitas mengalami penurunan yang menyebabkan berkurangnya respon tubuh terhadap infeksi. Infeksi yang sering terjadi adalah pneumonia bakterial, influenza, infeksi kulit, infeksi saluran cerna, dan infeksi saluran kemih.[1] Salah satu studi Harvard University menyatakan bahwa penyakit infeksi yang tanpa gejala dapat menyebabkan demensia (penyakit saraf yang dapat menyebabkan penurunan daya ingat pada lanjut usia).[2] Selain dapat menyebabkan penurunan kognitif, infeksi saluran nafas seperti pneumonia pada kelompok usia di atas 85 tahun meningkatkan risiko 32 kali lebih besar tingkat kematian dibandingkan dengan lansia yang berumur 65 hingga 69 tahun[3].
Masa pandemi COVID-19 menjadi ancaman yang serius bagi kesehatan lansia. Risiko paling tinggi dialami oleh lansia yang berusia di atas 80 tahun dengan angka kematian yang mencapai 21,9% dibandingkan pasien corona dari kategori usia lainnya.[4] Kepala Divisi Alergi dan Imunologi Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, dr. Deshinta Putri Mulya, M.Sc., Sp.PD-KAI., FINASIM, menyatakan bahwa menguatkan imunitas tubuh adalah hal yang sangat penting selama masa pandemi COVID-19.[5]
Wednesday, August 3, 2016
PROBIOTIK : MASIH BANYAK HAL YANG MESTI DIPELAJARI

Beth Bolt, RPh
Mikroorganisme terdapat dimana-mana, tanah, udara dan air, termasuk pada tubuh kita. Dalam standar higienitas modern mikroba dianggap sebagai hal yang buruk. Maka kita mempersenjatai diri kita dengan sabun, dan peralatan antiseptik lainnya untuk mencegah tindakan “buruk” mikroba pada tubuh kita.
Wednesday, November 30, 2011
Kitosan-Kurkumin Pemburu Sel Kanker
Oleh: Nawa TunggalPara peneliti Fakultas Farmasi, UGM, Yogyakarta, tahun 2003 memperoleh paten Pentagamavunon-0 di Amerika Serikat, yaitu sebuah senyawa hasil modifikasi kurkumin penghambat sel kanker. Kini dikembangkan kitosan nanopartikel untuk membawa kurkumin agar lebih efektif menyasar sel-sel kanker.
Ini (modifikasi kurkumin) menjadi obat antikanker dengan kombinasi kitosan yang melapisi kurkumin dalam ukuran nanopartikel,” kata dosen dan peneliti pada Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Ronny Martien, Kamis (23/6), setelah menerima penghargaan dan dana bantuan penelitian dari Biro Oktroi dan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Jakarta.
Ronny merupakan satu di antara empat peneliti muda lainnya yang diberi hibah dana penelitian oleh Biro Oktroi dan AIPI. Ronny mengajukan usulan penelitian bidang Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati.
Judul penelitiannya ”Pemanfaatan Kitosan dalam Meningkatkan Bioavailibilitas Senyawa Pentagamavunon-0 (PGV-0) sebagai Obat Analgetik-Antiinflamasi dengan Formulasi Nanopartikel”.
PGV-0 merupakan turunan analog kurkumin yang diperoleh dari rimpang kunyit dan temulawak. Menurut Ronny, PGV-0 diteliti UGM bekerja sama dengan Belanda.
Lalu, PGV-0 dipatenkan di AS dengan Nomor Paten US-6.777. 447B2. Ini mengingat banyak dilakukan riset kurkumin di negara ini dan telah menghasilkan beberapa paten pula. Kurkumin itu diperoleh dari kunyit dan temulawak yang banyak diekspor Indonesia ke AS.
PGV-0 terbukti memiliki kemampuan menghambat enzim cyclooxygenase (COX-2) yang terdapat pada sel-sel kanker. Ekspresi enzim COX-2 cenderung terus meningkat di dalam sel kanker sehingga harus dihambat untuk proses penyembuhannya.
”PGV-0 sebagai obat antikanker juga punya kelemahan berupa tingkat keterlarutan dalam air yang tergolong rendah sehingga perlu dikombinasikan dengan kitosan dengan keterlarutan di dalam air yang tinggi,” kata Ronny.
Melimpah
Ronny mengemukakan, obat antikanker dengan teknologi nanopartikel ini ditempuh melalui enkapsulasi kurkumin dengan kitosan berukuran 2-5 nanometer. Ketersediaan bahan baku untuk kurkumin dan kitosan melimpah sehingga berpeluang menjadi obat murah.
”Ada dua cara untuk menjadikan kitosan dan kurkumin ini memiliki ukuran nanopartikel,” kata Ronny.
Kedua metode itu meliputi top down dan bottom up. Metode top down menggunakan prinsip fisika dengan peralatan homogeniser yang belum ada di Indonesia dan biayanya menjadi relatif mahal. Metode bottom up pada prinsipnya ditempuh proses secara kimia dengan mencampurkan kitosan dan kurkumin tersebut.
”Saat ini belum ada industri yang menyatakan ingin bekerja sama untuk mengembangkan riset ini dan memproduksi obatnya di kemudian hari,” katanya.
Menurut dia, kelimpahan bahan baku merupakan modal utama pengembangan obat itu pada masa depan. PGV-0 mudah diperoleh dari kurkumin rimpang kunyit dan temulawak yang memiliki habitat cocok di wilayah tropis di Indonesia.
Kitosan terbuat dari kitin yang terkandung di dalam cangkang udang-udangan, termasuk cangkang kepiting. Cangkang udang, misalnya, diperkirakan mencakup 30-70 persen bagian dari tubuh udang sendiri sehingga cangkang menjadi limbah yang melimpah.
Melalui proses pemurnian, cangkang akan menghasilkan kitin sebagai senyawa aminopolisakarida yang mampu mengikat 4-5 kali berat lemak ketimbang berat kitin itu sendiri. Untuk menjadikan kitin sebagai kitosan, ditempuh melalui proses hidrolisis kitin dengan asam dan basa.
Kitosan merupakan kitin yang telah dihilangkan gugus asetilnya, lalu menyisakan gugus amina bebas yang menjadikan kitosan bersifat polikationik atau ion bermuatan positif.
”Karena muatan kitosan yang positif ini bisa ditempelkan dengan kurkumin yang bermuatan negatif,” kata Ronny.
Obat antikanker dengan kombinasi kitosan dan kurkumin—lebih tepatnya adalah PGV-O dengan ukuran nanopartikel—ini dimasukkan secara oral ke tubuh penderita.
Obat nanopartikel ini selanjutnya mudah diserap dan masuk ke pembuluh darah dan jaringan sel. Obat akan bekerja ketika menjumpai sel-sel kanker, terutama menghambat enzim COX-2 pada sel-sel kanker.
”Kurkumin dalam hal ini sebagai drug atau obat yang ingin diantar dengan kitosan nanopartikel,” kata Ronny.
Pada pengembangannya nanti, drug itu bisa diubah apa saja sesuai kebutuhan pasien. Obat dengan ukuran nanopartikel akan mengurangi dosis, tetapi Ronny mengakui, hasil penelitiannya belum mencapai presisi target.
”Para peneliti farmasi di dunia sekarang sedang mengejar metode pencapaian target penyakit secara presisi untuk diobati dengan obat nanopartikel ini,” ujar Ronny.
Kelimpahan bahan baku obat nanopartikel menjadi modal utama. Namun, ketekunan dan keseriusan semua pihak untuk mendukung riset ini tak kalah penting. Bahkan, amat penting.
5 Makanan Alami Penangkal Jerawat
Kompas.com - Jerawat merupakan salah satu "musuh" yang mengganggu kemulusan kulit wajah. Ada beberapa faktor yang memicu timbulnya jerawat, antara lain gejolak hormon, stres, hingga kebersihan kulit. Makanan tertentu juga diduga menyebabkan jerawat. Tetapi, ada juga makanan yang bisa menjaga keindahan kulit sekaligus menaklukkan "si musuh" kulit ini.1. Tiram, daging unggas, dan ikan
Tidak ada yang tahu persis mengapa makanan ini dianggap mampu mencegah jerawat. Tetapi para ahli mempercayai, asupan Zinc (seng) yang cukup dalam setiap menu makanan dapat membantu mengerem munculnya jerawat. Hal ini mungkin disebabkan karena sifat dari seng yang membantu mengendalikan pelepasan hormon. Selain itu, seng juga membantu tubuh menyerap vitamin A dan nutrisi lain yang penting bagi kesehatan kulit.
2. Salmon dan sumber omega-3
Beberapa dermatologis meyakini bahwa asam lemak omega-3 selain membantu mencegah peradangan dapat juga membantu mengontrol timbulnya jerawat. Agar mendapat hasil maksimal, setidaknya Anda harus makan dua porsi ikan yang kaya asam lemak omega 3 setiap minggu. Sumber terbaik omega 3 bisa didapat dari ikan salmon, sarden, dan mackerel, atau biji rami dan kenari.
3. Kentang, wortel, melon, atau paprika
Beta-karoten banyak ditemukan pada buah dan sayuran berwarna oranye dan kuning. Zat ini mempunyai fungsi untuk mengkonversi vitamin A di dalam tubuh dan nutrisi lain yang membantu meningkatkan selenium - senyawa yang baik untuk kulit.
4. Jeruk, tomat, atau kiwi
Makanan yang kaya vitamin C tidak memiliki fungsi sebagai penyembuh jerawat. Tetapi vitamin ini akan memperkuat dinding sel sekaligus membantu melindungi kulit Anda dari jaringan parut yang dapat menyebabkan noda. Selain itu kandungan bioflavonoid pada jeruk juga dapat bertindak sebagai anti peradangan alami yang dapat mempercepat proses penyembuhan.
5. Almond, telur, atau sayuran berdaun hijau
Antioksidan vitamin E membantu menyembuhkan kulit dari kerusakan dan jaringan parut akibat jerawat. Memang tidak mudah untuk mendapatkan banyak vitamin E dari diet rendah lemak. Tetapi minyak mentah nabati, kacang-kacangan, dan biji-bijian merupakan sumber terbaik dari antioksidan.
Monday, November 14, 2011
Jadi Langsing Tanpa Pusing
Oleh :K. Tatik Wardayati
Intisari-Online.com – Dulu, gemuk itu lambang “kemakmuran”. Namun, setelah terbukti obesitas (kegemukan) berpotensi mengundang beragam penyakit, banyak orang gemuk beralih ingin langsing. Segala cara dihalalkan tapi masih tetap gendut. Bagaimana mengatasinya?
Kegemukan membuat tubuh cepat lelah jika dipakai bekerja keras, debar jantung lebih kencang, serta pernapasan terganggu. Terlalu gemuk juga kadang menjadi pemicu munculnya penyakit kelas berat, seperti diabetes, hipertensi, hiperlipidemia, dan penyakit jantung. Namun, di samping alasan kesehatan, kadang ada juga yang bersikeras menurunkan bobot badannya lantaran dilandasi problem psikologis. Misalnya, untuk menambah kepercayaan diri.
Ada beberapa cara konvensional untuk mengatasi kegemukan, seperti banyak berolahraga, mengatur pola makan, hidup teratur, atau dengan menggunakan “alat bantu” semisal slimming tea, metode pengobatan akupunktur, sampai pemakaian obat modern yang mengandung bahan kimia. Namun, cara-cara tersebut tidaklah aman. Tak jarang malah menimbulkan efek samping cukup mengganggu.
Ada cara mencapai langsing lainnya yang kecil kemungkinannya bikin pusing. Yakni dengan memanfaatkan tanaman obat. Cara ini banyak dipilih, karena dianggap lebih aman, tidak mempunyai efek samping, bahannya mudah didapat, dan yang paling penting tak bikin kantong ludes. Enggak perlu belanja ke toko atau apotek lagi!
Berikut ini beberapa resep untuk melangsingkan tubuh.
Jati belanda (Guazuma ulmifolia)
Daun jati belanda dapat mengurangi pembentukan lemak, menguruskan dan merampingkan badan. Buahnya bisa dimanfaatkan untuk obat diare dan batuk, sedangkan kulit batangnya cocok untuk tonikum, serta obat penyakit lepra dan herpes.
Caranya: cuci dan potong-potong 20 helai daun jati belanda, lalu rebus dengan 3 gelas air bersih. Setelah dingin, saring dan minum 2 – 3 x sehari. Agar rasanya lebih enak, tambahkan gula secukupnya.
Daun kemuning (Murraya paniculata L. Jack)
Ambil segenggam penuh daun kemuning, tambahkan segenggam penuh daun mengkudu dan ½ jari kelingking temugiring (Curcuma hyeneana). Tumbuk semua bahan itu sampai halus, sambil tambahkan 1 cangkir air, kemudian peras dan diminum pagi-pagi sebelum sarapan.
Mengkudu (Morinda citrifolia)
Cuci 2 buah mengkudu yang sudah masak sampai bersih. Lalu parut, peras, dan saring. Ramuan ini diminum 2x sehari.
Nanas (Ananas comosus)
Buah yang rasanya segar ini berfungsi meluruhkan lemak berlebih di badan.
Caranya: kupas buah nanas yang sudah masak dan besarnya lumayan. Kemudian cuci dan parut sampai habis. Setelah itu peras dan saring. Minum 2x sehari.
Delima (Punica granatum)
Buah ini bersifat sebagai astringen karena mempunyai zat sama. Zat samak mengendapkan protein yang terdapat dalam mukus yang melapisi bagian dalam usus. Sehingga penyerapan makanan di usus menjadi terhambat, pemakannya pun tidak jadi gemuk.
Caranya: siapkan 2 buah delima yang masih muda. Cuci dan tumbuk sampai halus. Setelah itu remas dengan air masak, tambahkan sedikit garam, lalu peras dan saring. Minum 1 – 2x sehari.
Selain tanaman yang disebutkan di atas, beberapa jenis tanaman obat yang juga sering masuk dalam ramuan jamu galian singset adalah kumis kucing (Orthosiphon stamineus), meniran (Phyllanthus niruri), jung rahab (Baeckea frutescens). Fungsi tanaman-tanaman itu di dalam ramuan lebih bersifat diuretik atau membantu mengeluarkan cairan tubuh, tidak berkaitan langsung untuk menurunkan berat badan.
Dengan mengetahui manfaat dan kehebatan deretan tanaman obat antigemuk, kita kini betul-betul punya alternatif. Bahwa menjadi langsing itu tak mesti selalu diikuti kepala pusing dan bablasnya isi kantong. (Tanaman Berkhasiat)


