apt. Ilman Silanas, M.Kes.,M.Farm.Klin
Krisis resistansi antimikroba (AMR) telah mencapai titik kritis di mana infeksi bakteri yang dulunya mudah diobati kini menjadi ancaman mematikan. Di tengah kebuntuan penemuan molekul antibiotik baru, terapi bakteriofag muncul sebagai terobosan paling menjanjikan. Bakteriofag, atau faga, adalah virus alami yang secara spesifik menargetkan dan mereplikasi diri di dalam sel bakteri hingga menyebabkan lisis (kematian sel). Sebagai musuh alami bakteri, faga menawarkan mekanisme aksi yang sepenuhnya berbeda dari antibiotik, menjadikannya harapan baru bagi pasien yang sudah tidak lagi merespons pengobatan konvensional.
Keunggulan utama terapi faga terletak pada spesifisitasnya yang luar biasa tinggi terhadap inang tertentu. Berbeda dengan antibiotik spektrum luas yang sering kali menghancurkan mikrobiota usus yang bermanfaat, faga hanya menyerang bakteri patogen target tanpa mengganggu keseimbangan ekosistem mikroba tubuh manusia. Selain itu, faga bersifat "swasembada" atau auto-dosing; mereka akan terus bereplikasi selama bakteri target masih ada dan akan tereliminasi secara alami oleh tubuh setelah infeksi mereda. Kemampuannya untuk menembus biofilm bakteri—lapisan pelindung yang seringkali menjadi benteng pertahanan terakhir bagi superbug—memberikan keunggulan klinis yang signifikan.






