Showing posts with label Farmasi Klinik. Show all posts
Showing posts with label Farmasi Klinik. Show all posts

Monday, March 23, 2026

BAKTERIOFAG: SENJATA PRESISI DI TENGAH ANCAMAN RESISTENSI ANTIBIOTIK

 apt. Ilman Silanas, M.Kes.,M.Farm.Klin


Krisis resistansi antimikroba (AMR) telah mencapai titik kritis di mana infeksi bakteri yang dulunya mudah diobati kini menjadi ancaman mematikan. Di tengah kebuntuan penemuan molekul antibiotik baru, terapi bakteriofag muncul sebagai terobosan paling menjanjikan. Bakteriofag, atau faga, adalah virus alami yang secara spesifik menargetkan dan mereplikasi diri di dalam sel bakteri hingga menyebabkan lisis (kematian sel). Sebagai musuh alami bakteri, faga menawarkan mekanisme aksi yang sepenuhnya berbeda dari antibiotik, menjadikannya harapan baru bagi pasien yang sudah tidak lagi merespons pengobatan konvensional.

Keunggulan utama terapi faga terletak pada spesifisitasnya yang luar biasa tinggi terhadap inang tertentu. Berbeda dengan antibiotik spektrum luas yang sering kali menghancurkan mikrobiota usus yang bermanfaat, faga hanya menyerang bakteri patogen target tanpa mengganggu keseimbangan ekosistem mikroba tubuh manusia. Selain itu, faga bersifat "swasembada" atau auto-dosing; mereka akan terus bereplikasi selama bakteri target masih ada dan akan tereliminasi secara alami oleh tubuh setelah infeksi mereda. Kemampuannya untuk menembus biofilm bakteri—lapisan pelindung yang seringkali menjadi benteng pertahanan terakhir bagi superbug—memberikan keunggulan klinis yang signifikan.

Thursday, June 8, 2023

Konsep Dasar Evidence Based Medicine dalam Praktik Kefarmasian

Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes.,M.Farm.Klin


Evidence Based Medicine (EBM) adalah pendekatan dalam pengambilan keputusan medis yang didasarkan pada bukti ilmiah terbaik yang tersedia. Konsep ini bertujuan untuk mengintegrasikan pengetahuan klinis, pengalaman klinis, dan preferensi pasien dengan bukti-bukti ilmiah yang diperoleh melalui penelitian yang berkualitas. EBM mendorong praktisi medis, termasuk apoteker, untuk menggunakan bukti ilmiah yang kuat dalam pengambilan keputusan terkait pengobatan, pencegahan, dan manajemen penyakit.

Penerapan EBM dalam praktik apoteker memungkinkan apoteker untuk menyediakan layanan farmasi yang berkualitas dan berdasarkan bukti. Apoteker dapat menggunakan penelitian klinis, meta-analisis, panduan praktik klinis, dan literatur ilmiah lainnya untuk menghasilkan keputusan yang tepat. Dengan memiliki pengetahuan tentang EBM, apoteker dapat memastikan bahwa rekomendasi mereka didasarkan pada bukti yang kuat dan memberikan manfaat terbaik bagi pasien. Selain itu, EBM juga memungkinkan apoteker untuk terus mengembangkan dan meningkatkan praktik mereka dengan memperbarui pengetahuan melalui penelitian terbaru dan bukti ilmiah yang terkini. Dengan demikian, pengenalan tentang konsep EBM penting bagi apoteker dalam memberikan pelayanan yang optimal dan berdasarkan bukti ilmiah.

Prinsip Dasar EBM

Prinsip Dasar EBM adalah pendekatan yang sistematis dan terstruktur dalam pengambilan keputusan klinis yang didasarkan pada bukti ilmiah yang terbaik yang tersedia. Prinsip-prinsip ini membantu memastikan bahwa praktik klinis didasarkan pada penelitian yang terpercaya dan relevan, serta membantu menghindari keputusan berdasarkan kepercayaan semata atau pengalaman individu yang terbatas. 

Monday, April 10, 2023

SAYA SUDAH MENGGUNAKAN OBAT HIPERTENSI, TAPI MENGAPA TEKANAN DARAH SAYA TAK KUNJUNG TERKONTROL ?

Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes., M.Farm.Klin

Pertanyaan itu sering diajukan oleh pasien hipertensi yang belum juga mendapat hasil positif dari terapi yang dijalani. Sebuah analisis dari sampel NHANES 2003-2010 yang fokus pada karakteristik orang dengan hipertensi tidak terkontrol menunjukkan bahwa 39,4% subjek tidak menyadari hipertensi mereka, 15,8% menyadari tetapi saat ini tidak menggunakan obat, dan hanya 44,8% menyadari dan sedang menjalani pengobatan.¹ Data tersebut menunjukan ada 44,8% pasien yang menjalani pengobatan tapi hipertensi nya belum juga terkontrol.

Tenaga kesehatan dan juga pasien perlu mengetahui faktor-faktor yang bisa menyebabkan kegagalan pengobatan (medication failure) pada terapi hipertensi. Berikut adalah beberapa faktor-faktor tersebut :

HAL-HAL PENTING TENTANG CAMPAK

Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes., M.Farm.Klin

Sebagai Apoteker Ahli Farmasi Klinik saya akan menyampaikan hal hal yang masyarakat harus ketahui tentang penyakit campak:

Tuesday, September 8, 2020

IMMUNE BOOSTER UNTUK LANSIA


Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes

Lanjut Usia (Lansia) merupakan kelompok individu dengan usia  65 tahun keatas. Pada kelompok ini infeksi bakteri, virus dan jamur seringkali terjadi. Seiring pertambahan usia, fungsi sistem imunitas mengalami penurunan yang menyebabkan berkurangnya respon tubuh terhadap infeksi. Infeksi yang sering terjadi adalah pneumonia bakterial, influenza, infeksi kulit, infeksi saluran cerna, dan infeksi saluran kemih.[1]  Salah satu studi Harvard University menyatakan bahwa penyakit infeksi yang tanpa gejala dapat menyebabkan demensia (penyakit saraf yang dapat menyebabkan penurunan daya ingat pada lanjut usia).[2] Selain dapat menyebabkan penurunan kognitif, infeksi saluran nafas seperti pneumonia pada kelompok usia di atas 85 tahun meningkatkan risiko 32 kali lebih besar tingkat kematian dibandingkan dengan lansia yang berumur 65 hingga 69 tahun[3].

Masa pandemi COVID-19 menjadi ancaman yang serius bagi kesehatan lansia. Risiko paling tinggi dialami oleh lansia yang berusia di atas 80 tahun dengan angka kematian yang mencapai 21,9% dibandingkan pasien corona dari kategori usia lainnya.[4] Kepala Divisi Alergi dan Imunologi Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, dr. Deshinta Putri Mulya, M.Sc., Sp.PD-KAI., FINASIM, menyatakan bahwa menguatkan imunitas tubuh adalah hal yang sangat penting selama masa pandemi COVID-19.[5]

Friday, December 22, 2017

MENGAPA TIDAK ADA ANTIBIOTIK BARU ?

Oleh : Ilman Silanas, Apt., M.Kes
Apoteker RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung


Antibiotik, “keajaiban” dunia medis dalam mengadapi infeksi bakteri. Sejak ditemukan tahun 1928 antibiotik telah menyelamatkan jutaan nyawa manusia. 97 tahun berlalu, dibalik cerita sukses, kini antibiotik mengadapi “era kegelapan”, Post Antibiotic Era.

Post Antibiotic Era adalah masa dimana penyakit infeksi yang mengancam jiwa tidak dapat diatasi karena antibiotik tidak lagi efektif disebabkan permasalahan resistensi. Pada masa ini tidak ada antibiotik  jenis baru yang lebih efektif, karena tidak ada lagi produsen yang mau melakukan penelitian dan pengembangan antibiotik baru.

Tuesday, December 5, 2017

ANTBIOTIC SKIN TEST (AST) : DETEKSI DINI ALERGI ANTIBIOTIK ?

Oleh : Ilman Silanas, Apt.,M.Kes
Apoteker RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung


Alergi adalah respon hipersensitif imunologis yang terjadi karena paparan alergen. Alergi obat dikategorikan sebagai reaksi obat yang tidak diinginkan. Ciri khas reaksi alergi obat adalah :
  1. Tidak terprediksi
  2. Terjadi pada individu tertentu
  3. Tidak berhubungan dengan sifat farmakologi obat
  4. Memerlukan periode induksi pada awal paparan tapi tidak pada paparan kedua
  5. Dapat terjadi pada dosis dibawah dosis terapeutik
  6. Bisa berefek pada organ, pada umumnya mempengaruhi kulit
  7. Manifestasi klinis yang nampak adalah erythema, angioedema, serum sicknes syndrome, anafilaksis dan asma.
  8. Terjadi pada sebagian kecil populasi (10-15%)
  9. Menghilang saat terapi obat dihentikan dan muncul kembali setelah diberikan obat yang sama atau obat dengan struktur kimia yang mirip
  10. Dapat dilakukan desensitisasi


Reaksi alergi dapat dikategorikan menjadi empat tipe :

1.       Tipe I Hipersensitivitas Tipe Cepat (Anafilaksis)
2.       Tipe II Reaksi Sitotoksik
3.       Tipe III Reaksi Kompleks Imun
4.       Tipe IV Reaksi Tertunda

Alergi tipe satu merupakan alergi yang paling banyak memakan korban. Alergi tipe ini diperantarai oleh Immunoglubulin E (IgE) yang dapat terjadi 30 menit setelah paparan alergen. Penisilin adalah salah satu penyebab utama terjadinya alergi tipe I.

Monday, October 2, 2017

ANTIBIOTIK PASCA OPERASI SESAR MENURUNKAN RISIKO INFEKSI LUKA OPERASI (ILO) PADA WANITA OBESITAS

Oleh : Ilman Silanas, Apt.,M.Kes
Apoteker RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung


Sebuah artikel yang diterbitkan di laman online Medscape.com pada tanggal 20 September 2017 membahas hasil penelitian yang cukup menarik. Penelitian yang dilakukan oleh Carri R Warshak dan rekan dari Universitas Cicinati, Ohio, mengungkap bahwa terapi antibiotik oral setelah operasi sesar secara signifikan dapat menurunkan tingkat infeksi luka operasi pada wanita obesitas, hal ini didasarkan pada hasil sebuah studi Randomized controlled trial (RCT).

Jurnal tersebut  dipublikasikan secara online di JAMA pada 19 September 2017 dengan judul Effect of Post–Cesarean Delivery Oral Cephalexin and Metronidazole on Surgical Site Infection Among Obese Women”.

Monday, September 18, 2017

CONTINUOUS INFUSION VS STABILITAS MEROPEMEN


Oleh : Ilman Silanas, Apt.,M.Kes
Apoteker RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung

Meropenem adalah salah satu antibiotik golongan karbapemen yang digunakan dalam terapi Hospital Acquired Infection. Berdasarkan pola supsetibilitas, meropenem merupakan antibiotik yang banyak dipilih karena memiliki spektrum luas, bekerja pada bakteri gram positif dan negatif.

Meropenem bekerja dengan menghambat sintesis dinding sel bakteri. Terdistribusi hampir pada semua cairan dan jaringan tubuh. Ikatan protein hanya 2 % dan volume distribusi pada dewasa 15-20 Liter. Metabolisme meropenem terjadi di hati, waktu paruh pada kondisi ginjal normal  adalah 1-1,5 jam.[1]

Thursday, December 22, 2016

STABILITAS DAN KOMPATIBILITAS SEFAZOLIN

Oleh :
Ilman Silanas, Apt.,M.Kes
(Apoteker RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung)

Sefazolin merupakan antibiotik golongan Sefalosporin generasi pertama. Sefazolin lebih aktif pada bakteri gram positif. Mekanisme kerja antibiotik ini adalah dengan menghambat sistensis dinding sel yang membuat sel bakteri lisis sehingga menyebabkan kematian bakteri. Sefazolin memililiki sifat bakterisida. Dalam standar penggunaan antibiotik, sefazolin sebagai antibiotik profilaksis tindakan operasi yang diberikan 30-60 menit sebelum insisi. Sefazolin dalam bentuk garam natrium tersedia dalam sediaan 500 mg, 1000 mg, dan 2000 mg.

Administrasi intramuscular, rekonstitusi sediaan dengan pelarut air steril untuk injeksi, volume pelarutan mengikuti tabel dibawah ini