Tuesday, April 11, 2023
MENGENAL OBAT UNTUK PENYAKIT JANTUNG KORONER
Monday, April 10, 2023
SAYA SUDAH MENGGUNAKAN OBAT HIPERTENSI, TAPI MENGAPA TEKANAN DARAH SAYA TAK KUNJUNG TERKONTROL ?
Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes., M.Farm.Klin
Pertanyaan itu sering diajukan oleh pasien hipertensi yang belum juga mendapat hasil positif dari terapi yang dijalani. Sebuah analisis dari sampel NHANES 2003-2010 yang fokus pada karakteristik orang dengan hipertensi tidak terkontrol menunjukkan bahwa 39,4% subjek tidak menyadari hipertensi mereka, 15,8% menyadari tetapi saat ini tidak menggunakan obat, dan hanya 44,8% menyadari dan sedang menjalani pengobatan.¹ Data tersebut menunjukan ada 44,8% pasien yang menjalani pengobatan tapi hipertensi nya belum juga terkontrol.
Tenaga kesehatan dan juga pasien perlu mengetahui faktor-faktor yang bisa menyebabkan kegagalan pengobatan (medication failure) pada terapi hipertensi. Berikut adalah beberapa faktor-faktor tersebut :
OBAT TRADISIONAL PENURUN BERAT BADAN
Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes., M.Farm.Klin
Obesitas adalah masalah kesehatan global yang terus meningkat. Menurut data WHO, pada tahun 2016, lebih dari 1,9 miliar orang dewasa di seluruh dunia memiliki kelebihan berat badan, dan lebih dari 650 juta orang di antaranya adalah obesitas. Obesitas dapat meningkatkan risiko terjadinya berbagai penyakit, seperti diabetes, penyakit jantung, dan kanker.
Di Indonesia, masalah obesitas juga semakin meningkat. Menurut data Riskesdas 2018, prevalensi obesitas pada orang dewasa di Indonesia meningkat dari 19,4% pada tahun 2013 menjadi 21,8% pada tahun 2018. Obesitas juga semakin sering ditemukan pada anak-anak dan remaja. Faktor-faktor yang menyebabkan meningkatnya kasus obesitas di Indonesia meliputi perubahan pola makan, gaya hidup yang kurang aktif, dan urbanisasi.
Permasalahan obesitas di Indonesia tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga berdampak pada ekonomi negara. Biaya pengobatan penyakit yang disebabkan oleh obesitas sangat tinggi, dan dapat mengurangi produktivitas dan kualitas hidup individu.
Untuk mengatasi masalah obesitas, diperlukan upaya dari berbagai pihak, seperti pemerintah, masyarakat, dan industri makanan. Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gaya hidup sehat, memperbaiki pola makan dan meningkatkan aktivitas fisik, serta mengatur regulasi dan kebijakan terkait makanan dan minuman yang dikonsumsi.
Indonesia sebagai negeri dengan keragaman hayati yang melimpah memiliki tanaman yang berpotensi mengatasi masalah obesitas. Berikut ini adalah lima tanaman herbal yang dapat membantu menurunkan berat badan:
BIJAK MENGGUNAKAN OBAT TRADISIONAL
Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes., M.Farm.Klin
Masyarakat Indonesia masih menjadikan obat tradisional sebagai pilihan untuk mengobati berbagai macam keluhan penyakit. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2018 menunjukkan 75,6% masyarakat menggunakan obat tradisional. Sementara itu, menurut data dari Asosiasi Pengusaha Suplemen Kesehatan dan Produk Kesehatan Indonesia (APSKI) pada tahun 2019, pangsa pasar herbal dari seluruh pasar produk kesehatan mencapai sekitar 35%.
Pasar obat tradisional di Indonesia terus mengalami peningkatan. Dari data Direktorat Jendral Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan kementrian Kesehatan RI, pada tahun 2006 pasar obat herbal mencapai Rp 5 triliun. Di tahun 2007 dan 2008, pasar obat herbal menjadi Rp.6 triliun dan Rp 7,2 triliun secara berurutan. Pada tahun 2012, pasar obat herbal mencapai Rp 13,2 triliun dengan nilai dalam negeri sebesar Rp12,1 triliun dan ekspor sebesar Rp 1,1 triliun. Pasar obat herbal tersebut meliputi Jamu, obat herbal, minuman herbal, spa dan aroma terapi.¹
HAL-HAL PENTING TENTANG CAMPAK
HATI-HATI MENGGUNAKAN PARASETAMOL PADA KONDISI INI !!!!
Tuesday, April 4, 2023
FORMULARIUM OBAT DI MASA PERADABAN ISLAM
Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes, M.Fam.Klin
Sejak mendirikan Negara Islam di Madinah, Rasulullah telah meletakkan pondasi kuat untuk membangun peradaban besar yang berpengaruh di dunia. Berkat perjuangan para Sahabat dan generasi setelahnya umat Islam telah berhasil menguasai wilayah yang dulu dikuasai oleh kekaisaran Romawi dan Persia. Tidak hanya mendapatkan wilayah baru untuk diterapkan hukum-hukum Allah SWT,umat Islam pun mendapat limpahan ilmu pengetahuan yang menjadi modal untuk membangun peradaban yang lebih kuat.
Sepanjang sejarah kekuasaan Khilafah Islam, tak jarang ujian berupa wabah penyakit terjadi. Wabah penyakit melanda di beberapa wilayah negara, bersyukur, para pemegang kebijakan mau melaksanakan perintah Nabi SAW untuk menyerahkan masalah pada ahlinya, wabah pun dapat dilokalisir dan tidak sampai menyebar ke daerah lain. Peradaban yang maju dapat dilihat dari upaya kesehatan yang dilakukan, preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif. Tidak mungkin sebuat peradaban berkembang tanpa modal kesehatan penduduknya. Kegiatan dakwah dan jihad dapat berlangsung sukses jika para dai dan tentara dalam kondisi sehat. Ekonomi dapat berjalan bila ancaman wabah penyakit sirna. Pendidikan bisa berjalan dengan baik jika guru dan murid terjaga kesehatannya.
Seluruh upaya
kesehatan pasti melibatkan penggunaan bahan yang berfungsi untuk memperbaiki
kondisi tubuh. Penelitian dan
penelusuran pustaka-pustaka kuno dari berbagai peradaban telah dilakukan oleh
peneliti di era khilafah untuk menemukan obat yang berkhasiat dan aman. Ilmu
tentang bahan obat dan obat akan berkembang seiring dengan meluasnya kekuasaan
Islam. Buku-buku pengobatan Yunani, Mesir, Persia dan Roma telah diterjemahkan
kedalam bahasa arab dan menjadi kajian penting dalam bidang kesehatan khusunya farmasi.
Penelitian-penelitian tentang komposisi, formulasi dan khasiat dilakukan oleh para dengan standar tertinggi
pada masanya.
Obat-obat
yang telah ditemukan dikompilasi dalam bentuk formularium agar lebih mudah
untuk dipelajari dan diaplikasikan dalam praktik klinik. Pembuatan fomularium
mengadopsi formularium bangsa Yunani, hal ini tidak menjadi kendala bagi umat
Islam, karena formularium adalah hasil ilmu pengetahuan yang bebas nilai
sehingga dapat diterima oleh syariat. Formularium sendiri dapat didefinisikan
sebagai dokumen yang memuat sediaan obat dan informasi penting lainnya yang
merefleksikan keputusan klinik mutakhir.
Berikut
beberapa nama-nama ilmuan di era kejayaan Islam
dan karya-karya nya dalam bidang farmasi yang dapat dianggap sebagai
formularium pada masanya.
1.
Abu Hanifa Al-Dinawari (lahir :
815 M, wafat : 895/902 M)
Beliau adalah seorang ahli astronomi, botani dan sejarah.
Beliau mengupas dan membedah botani lewat karyanya
Kitab al-Nabat (Buku Tumbuh-tumbuhan) yang terdiri atas enam volume yang
mencakup 637 jenis tanaman. Hanya saja beberapa volume telah punah, hanya
volume ketiga dan kelima yang tersisa.
Buku beliau menjadi dasar untuk pencarian tumbuhan obat dan pengembangannya
obat nabati (Golshani et al., 2015).
2.
At-Tabari (Lahir : 838 M, Wafat :
870 M)
Beliau adalah seorang ahli kedokteran, botani dan
psikologi. Karya beliau dibidang medis adalah kitab Firdaus Al-Hikmat
At-Tabari yang terdiri dari tujuh jilid. Pada jilid keenam kitab ini
menjelaskan tentang obat-obatan dan racun-racun (Ghaffari et al., 2014).
3. Abu
Bakar Ar-Razi (lahir : 854 M, wafat : 932 M)
Selain ahli dalam bidang kedokteran,
beliau pun ahli dalam bidang farmakognosi, beliau telah membagi obat-obatan
yang berasal dari tanaman, hewan dan mineral. Kitab yang beliau karang, Al-Asrar,
berisi tentang obat-obatan dan cara pencampurannya. Hingga abad ke 19 kitab ini
masih menjadi buku pegangan praktikum kedokteran (Amr & Tbakhi, 2007).
4.
Ibnu Juljul (wafat : 994 M)
Beliau menterjemahkan buku De Materia Medica
Disocorides kedalam bahasa arab dan menambahkan banyak substansi baru
seperti tamarin, champora, kayu cendana, dan kapulaga. Ia pun mengidentifikasi
banyak tumbuhan baru yang memiliki efek pengobatan untuk beberapa penyakit (Al-Hassani, 2012).
5.
Al-Biruni (Lahir : 973 M, wafat :
1051 M)
Beliau menulis kitab yang berjudul Asy-Syahdalah
(ramuan-ramuan) yang diterjemahkan dalam bahasa latin dengan judul Continens.
Al-Biruni menjelaskan tentang ramuan-ramuan obat dan tata cara dalam pembuatan
obat, termasuk menjelaskan peralatan yang diperlukan (Hamarneh, 1976).
6.
Abu Bakar Hamid Ibnu Samajun
(w.1002)
Ibnu Samajun adalah seorang dokter yang menulis sebuah
buku yang sangat luar biasa, buku tebal nya diberi judul al-Jami‘ li-aqwal al-qudama’ wa-al-muhdathin min al-aṭibba’ wa-al-mutafalsifin fī l-adwiyah al-mufradāh (The Compendium on Simple Drugs with Statements of Ancient and
Modern Physicians and Philosophers). Beliau pun menulis buku
formularium yang diberi judul Al-Aqrabadin yang berisi komposisi obat yang
bermanfaat untuk praktik kedokteran (Ullmann, 1970).
7.
Al-Ghafiqi (wafat : 1165)
Beliau adalah seorang ahli obat-obatan yang berasal dari
Andalusia, beliau mengumpulkan dan mengkaji berbagai jenis tumbuhan yang
diperolehnya dari wilayah Spanyol dan Afrika. Beliau menulis kitab yang
berjudul Al-Jami Al-Adwiyyah Al-Mufradah yang berisi tentang komposisi
obat, dosis dan tata cara meracik (Sudewi & Nugraha, 2017).
8.
Ibnu Al-Suri (Lahir : 1177 M,
wafat : 1241 M)
Beliau menulis kitab Al-Adwiyat Al-Mufradah yang
berisi tentang obat-obat sederhana yang bersumber dari bahan tumbuhan. Kitab
ini memiliki kelebihan yaitu adanya lukisan tumbuhan obat yang dimaksud. Untuk
membuat kitab ini beliau mempekerjakan pelukis untuk dapat menggambarkan sketsa
tumbuhan mulai dari tahap pertumbuhannya dengan menggunakan pewarna (Ali, 1996).
9.
Ibnu Al-Baythar (Lahir : 1197 M,
Wafat : 1248 M)
Beliau dikenal sebagai dokter hewan, ahli botani dan
farmakologi. Selama beliau di Mesir beliau ditunjuk sebagai “Kepala Ahli Maramu
Obat”. Setelah meninggalkan Kairo beliau berkelana ke Malaga, Marrakesh, Suriah, dan Asia Kecil, untuk mencari tanaman
obat. Buku-buku beliau terkait kompilasi obat-obatan antara lain Al-Mughni
fi al-Adwiya’ al-Mufradat, kitab ini berisi tentang ramuan-ramuan obat yang disusun
disesuaikan dengan bagian-bagian tubuh yang harus didahulukan untuk
menyembuhkan penyakit. Buku yang beliau tulis pula adalah Al-jami’ li Mufradat al-Adwiyah wa al-Ahdhiya,
buku ini berisi tentang 1400 contoh
obat. Buku lainnya adalah Al-Jamii fi Al-Tibb, buku ini mengupas tentang beragam tubuhan
obat, kurang lebih ada seribu tumbuhan yang dibahas. Buku terakhir adalah Al-Adwiyat
al-Basyithah, yang berisi tentang ramuan-ramuan obat sederhana (Ullmann, 1970).
Itulah beberapa ilmuan farmasi ternama yang membuat formularium terkait
obat. Tidak dapat dipungkiri bahwa peradaban Islam telah mewariskan ilmu yang
luar biasa untuk seluruh penduduk di dunia ini. Hal ini membuktikan bahwa Islam
tidak menghambat perkembangan ilmu, malah sebaliknya Islam akan mendorong
manusia untuk melakukan penemuan-penemuan di bidang kesehatan, sains dan teknologi.
Referensi :
Al-Hassani, S. T. S. (Ed.).
(2012). 1001 Invention The Enduring Legacy of Muslim Civilization (3rd
ed.). National Geograpich.
Ali, A. (1996). Islamic Dynasties of the Arab
East: State and Civilization During the Later Medieval Times. M.D.
Publications Pvt. Ltd.
Amr, S. S., & Tbakhi, A. (2007). Abu Bakr
Muhammad Ibn Zakariya Al Razi (Rhazes): Philosopher, Physician and Alchemist. Annals
of Saudi Medicine, 27(4), 305–307.
https://doi.org/10.5144/0256-4947.2007.305
Ghaffari, F., Naseri, M., Asghari, M., &
Naseri, V. (2014). Abul- Hasan al-Tabari: A review of his views and works. Archives
of Iranian Medicine, 17(4), 299–301. https://doi.org/014174/AIM.0015
Golshani, S. A., Daneshfard, B., Mosleh, G., &
Salehi, A. (2015). Drugs and Pharmacology in the Islamic Middle Era. Pharmaceutical
Historian, 45(3), 64–69.
Hamarneh, S. K. (1976). The pharmacy and materia
medica of al-Biruni and al-Ghafiqi—A comparison. Pharmacy in History, 18(1),
3–12.
Sudewi, S., & Nugraha, S. M. (2017). Sejarah
Farmasi Islam dan Hasil Karya Tokoh-Tokohya. 2(1), 57–71.
Ullmann, M. (1970). Die Medizin im Islam. E.J.
Brill Leiden, VI(I).
LEMBAGA PENDIDIKAN FARMASI DI MASA KHILAFAH ISLAM
Oleh : apt. Ilman Silanas, M.Kes, M.Farm.Klin
Pada awal nya ilmu farmasi merupakan bagian dari ilmu kedokteran, dalam aspek lainnya, terdapat kaitan antara ilmu farmasi dengan botani dan kimia. Sepanjang sejarah perkembangan ilmu ini hingga dipisahkan menjadi badan ilmu mandiri, ilmu farmasi telah tumbuh dari berbagai cabang keilmuan lain. Ilmu botani menjadi dasar dari perkembangan ilmu farmakognosi, ilmu kedokteran menjadi dasar bagi ilmu farmakologi dan terapi, dan ilmu kimia menjadi dasar bagi ilmu farmasetika dan industri farmasi.
Kaum
muslimin mengenal ilmu farmasi seiring perkembangan tiga keilmuan tersebut.
Universitas-universitas telah didirikan dan melahirkan ilmuan polymath,
mereka mempelajari lebih dari satu bidang ilmu, mengkombinasikan dan melahirkan
ilmu terapan yang bermanfaat untuk umat manusia. Tidak hanya sebagai penopang
kejayaan islam dan kaum muslimin, akan tetapi memberikan kontribusi besar bagi
perkembangan ilmu pengetahuan modern masa kini.
Berikut adalah beberapa universitas yang didirikan pada masa khilafah islam yang berkontribusi langsung ataupun tidak langsung pada lahirnya para ilmuan yang mengembangkan ilmu farmasi.
