Friday, July 22, 2016

FANATISME


Dalam ilmu psikologi fanatisme didefinisikan sebagai suatu keyakinan atau suatu pandangan tentang sesuatu, yang positif atau yang negatif, pandangan yang tidak memiliki sandaran teori atau pijakan kenyataan, tetapi dianut secara mendalam sehingga susah diluruskan atau diubah. Ciri-ciri yang jelas dari sifat fanatik adalah ketidakmampuan memahami karakteristik individual orang lain yang berada diluar kelompoknya, benar atau salah.( http://www.psikoterapis.com/?en_apa-itu-fanatisme-%2C)
Fanatik adalah ekspresi dari gharizatul baqa'. Bentuk mempertahankan eksistensi diri. Seseorang yang telah memiliki identitas tertentu tentu akan menjaga identitas yang melekat pada dirinya tetap dikenal baik dan dihormati oleh orang lain. Sifat ini muncul secara alamiah sebagai bagian dari potensi hidup yang tetap ada pada setiap manusia.

Warna kulit, suku, bahasa, bangsa, budaya, dapat menjadi identitas yang memunculkan fanatisme. Hingga grop band, artis, dan klub sepak bola dapat menjadi faktor pencetus fanatisme.
Hingga saat saya dan teman berpapasan dengan supporter klub bola di bandung. Kami melihat mereka begitu eforia, walau pun hasil pertandingan tidak memuaskan tapi mereka tetap meriah dan ugal-ugalan. Pada pakaian mereka tertulis kalimat-kalimat yang saya lihat melampaui batas seperti, "Hidup Mati untuk P***IB", hingga hinaan-hinaan pada rival supporter klub sepak bola lain. Saya berkata pada teman saya "Setiap manusia pasti akan Fanatik pada sesuatu".
Saat Rasulullah SAW diutus, beliau menghadapi masyarakat dengan budaya Fanatik kesukuan yang sangat kuat. Rasulullah menghadapi puluhan kabilah di Makkah, masyarakat Arab mengenal fanatisme kesukuan dengan sebutan Ashabiyah. ‘Ashabiyah adalah sifat yang diambil dari kata ‘ashabah. Dalam bahasa Arab, ‘ashabat berarti kerabat dari pihak bapak. Menurut Ibn Manzhur, ‘ashabiyyah adalah ajakan seseorang untuk membela keluarga, tidak peduli keluarganya zalim maupun tidak, dari siapapun yang menyerang mereka. (Ibn Mandzur, Lisan al-‘Arab, Dar al-Fikr, t.t.I/606.)
‘Ashabiyah dapat juga bermakna ikatan kelompok baik kelompok keturunan maupun yang lain. Nasionalisme, kesukuan, golongan, kedaerahan, jamaah, partai, kemadzhaban, dan lainnya termasuk dalam makna‘ashabiyah.
Hanya saja, larangan atau keharaman ikatan ‘ashabiyah itu bukan berarti tidak boleh mencintai suku, daerah, keluarga, jamaah, kelompok, golongan, atau mazhab. Akan tetapi, maknanya adalah tidak boleh atau haram menjadikan ikatan ‘ashabiyah itu di atas segalanya; di atas kebenaran dan di atas ikatan Islam dan keimanan. Di dalam riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Fusailah binti Watsilah bin al-Asqa’ dari bapaknya dikatakan: Aku berkata, “Apakah ‘ashabiyah itu, ya Rasulullah?” Beliau bersabda:
أَنْ تُعِينَ قَوْمَكَ عَلَى الظُّلْمِ
"Engkau menolong kaummu di atas kezaliman."
Sikap ‘ashabiyah (fanatisme kelompok) itu harus ditinggalkan seperti yang diperintahkan Rasul saw. Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Jabir bahwa dalam satu perang, seorang Muhajirin mendorong seorang Anshar, lalu orang Anshar itu berkata, “Tolonglah, hai Anshar.” Orang Muhajirin itu berkata, “Tolonglah, hai Muhajirin.” Nabi saw. pun mendengar itu dan beliau bersabda:
مَا بَالُ دَعْوَى جَاهِلِيَّةٍ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ: كَسَعَ رَجُلٌ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ. فَقَالَ: دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ
“Ada apa dengan seruan jahiliah itu?” Mereka berkata, “Ya Rasulullah, seorang dari Muhajirin memukul punggung seorang dari Anshar.” Beliau bersabda: “tinggalkan itu, sebab hal itu muntinah (tercela, menjijikkan dan berbahaya).”
Maka ikatan yang benar yang layak kita bela dan pertahankan adalah ikatan yang ada dalam ayat berikut ini :
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk." (QS. Ali Imran : 103)
Saudara mu Ilman Silanas

No comments:

Post a Comment