Oleh : Ilman Silanas, Apt.,M.Kes (Apoteker RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung)
Berikut saya paparkan cara Ilmiah dan cara Awam dalam mengenali obat palsu dan obat tidak standar:
1. Cara Ilmiah
Tingkat akurasi cara Ilmiah adalah mendekati 100 %. Karena dilakukan dengan menggunakan metode yang telah teruji validitasnya. Uji yang dilakukan adalah Uji Kuantitaif dan Kualitatif. Cara ini menuntut kesempurnaan dalam menjalankan prosesnya yang bertumpu pada 3M (Man, Machine, Methode) bila salah satu dari 3 M ini bermasalah, dapat dipastikan hasilnya tidak akan memuaskan dan tidak valid (tidak bisa dipercaya).
Uji kuantitatif adalah uji yang dilakukan dengan memeriksa kadar zat aktif dari sebuah sediaan obat. Misalnya, pasien membeli sirup Ibuprofen, dikatakan setiap 5 ml mengandung 100 mg Ibuprofen, artinya setiap pasien tersebut menakar obat dengan sendok takar 5 ml, seharusnya terkandung 100 mg Ibuprofen. Maka uji Kuantitatif dilakukan dengan menghitung kadar Ibuprofen, bila hasilnya antara 90-110 mg maka itu masih pada batas yang diperbolehkan karena aturannya demikian, tapi bila kurang dari 90 mg atau lebih dari 110 mg maka obat tersebut sudah diluar batas ketentuan. Paling parah terjadi bila tidak ada kadar Ibuprofennya sama sekali.
Uji Kuantitatif adalah uji yang dilakukan untuk memeriksa apakah zat aktif yang terkandung dalam sediaan obat sesuai dengan klaim obat. Misalnya, pasien membeli tablet asam mefenamat, setelah diuji ternyata tidak terkandung sedikitpun asam mefenamat, yang diperlihatkan dari hasil reaksi atau petunjuk pada instrument. Obat hanya mengandung amilum, dan zat tambahan lainnya, artinya obatnya kosong (tidak ada zat aktif).
Metode Kuantitatif dan Kualitatif untuk tiap senyawa sudah ada ketentuannya dalam Farmakope atau buku teks terkait Kimia Analisis Farmasi.
2. Cara Awam
Bila anda bukan orang yang ahli dibidang farmasi atau bidang medis, berikut cara awam yang bisa saya bagi, berdasarkan jenis sediaan obat :